Diruang lain dalam setiap detik yang berbeda, semua masih tentang desember.
Disini, diantara mereka aq terhanyut, masih pula kau renungi kabut tebal yang perlahan merapat dan kadang menghilang, merangkak dilereng sindoro.
Sama.
Seperti kabut, ketika kulihat lembah dihatimu.
Seperti kabut, ketika kutatap sinar matamu
seperti kabut, ketika membimbing langkahku
seperti kabut, ketika ku harus menentukan langkahku.
Perlahan kabut menghilang, membuat nyata yg semula tersamar, terbawa oleh angin sepoi angin yang menghembuskan dingin menciutkan pori-pori.
Tapi aku suka, walau dingin, meskipun angkuh. Angin yang mengundang kabut dan angin yang mengusir kabut.
Desember itu anaphalis javanica tak berbunga di sindoro. Pun tak ada pelangi sehabis hujan. Hanya kabut dan angin yang menderu, namun itu bukan keindahanmu.
Klaten, 25 Juli 2009
Terima kasih telah membaca artikel: Puisi "Keindahanmu"
Aku dan Kau (Edelweis)
Biarkan ku pergi
pergi untuk datang
atau pergi untuk kembali. . .
Kan kubaca syair, dari puisi yg ku tulis di puncak mahameru desember lalu
bersama sang siluet senja
dan hamparan awan kapas yg membentang.
Saat sang buana telah membiarkanku merasakan keberadaannya. Rasanya ingin ku tarik violet dari sang mega.
Disana ku gariskan berjuta harapan yang tertinggal bersama sang kawan. Bersama tangkai edelweiss yg berguguran. .
Aku dan kau
sama2 punya harapan
aku dan kau
sama2 punya impian
aku dan kau
sama2 punya cita-cita
andaikan ku jatuh seperti tangkai edelweiss itu
satu harapan dan impianku adalah kan ku bacakan berjuta puisi yg terpenat dalam dada
dimana dulu kau pernah tersenyum karena senja.
Dan ketika batu2 nisan itu menjadi saksi
saat nyanyian lagu mahameru berkumandang
akan ku tetap disana
terdiam berangan-angan
tetap hidup untuk mencintai bumi
mencintai kebebasan
Klaten, 20 Juli 2009
( Saat aku berkenenalan dengan soe hok-gie lewat catatan hariannya "Catatan Seorang Demonstran". Entah mengapa aku ingin sekali pergi ke puncak abadi para dewa, untuk persahabatan, mencintai bumi dan mencintai kebebasan berpikir. Dan Setelah saya membaca novel "5 CM" yang berkisah tentang persahabatan dan cinta kasih terhadap alam. Saat aku membaca puisiku kembali, ternyata ada sesuatu hal yang hidup dalam puisi ini. Mengajak ku untuk selalu mencintai kehidupan, teman dan alam)
Terima kasih telah membaca artikel: Aku dan Kau (Edelweis)
pergi untuk datang
atau pergi untuk kembali. . .
Kan kubaca syair, dari puisi yg ku tulis di puncak mahameru desember lalu
bersama sang siluet senja
dan hamparan awan kapas yg membentang.
Saat sang buana telah membiarkanku merasakan keberadaannya. Rasanya ingin ku tarik violet dari sang mega.
Disana ku gariskan berjuta harapan yang tertinggal bersama sang kawan. Bersama tangkai edelweiss yg berguguran. .
Aku dan kau
sama2 punya harapan
aku dan kau
sama2 punya impian
aku dan kau
sama2 punya cita-cita
andaikan ku jatuh seperti tangkai edelweiss itu
satu harapan dan impianku adalah kan ku bacakan berjuta puisi yg terpenat dalam dada
dimana dulu kau pernah tersenyum karena senja.
Dan ketika batu2 nisan itu menjadi saksi
saat nyanyian lagu mahameru berkumandang
akan ku tetap disana
terdiam berangan-angan
tetap hidup untuk mencintai bumi
mencintai kebebasan
Klaten, 20 Juli 2009
( Saat aku berkenenalan dengan soe hok-gie lewat catatan hariannya "Catatan Seorang Demonstran". Entah mengapa aku ingin sekali pergi ke puncak abadi para dewa, untuk persahabatan, mencintai bumi dan mencintai kebebasan berpikir. Dan Setelah saya membaca novel "5 CM" yang berkisah tentang persahabatan dan cinta kasih terhadap alam. Saat aku membaca puisiku kembali, ternyata ada sesuatu hal yang hidup dalam puisi ini. Mengajak ku untuk selalu mencintai kehidupan, teman dan alam)
Jangan Sampai Salah Ciptakan Sejarah
Sadar dengan yg terlihat dibalik gunung ada sbuah kehidupan yg andil menentukan kehidupan kita saat ini..
Keadaan masa lalu adalah saksi disaat aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang tak ada manfaatnya.
Mending kita lakukan kesalahan tapi ada manfaatnya. Agar kita semakin mengingat bijak.
Tiap sore melihat bulan yang hanya separuh lama-kelamaan menjadi utuh, tapi tak begitu dinamis langkahku untuk perjuangkan janji bersama kekasih. Atau bahkan terlalu dibuat dinamis, karna dilihat ada satu dua tiga empat yang sempat merasakan kekecewaan?
Bijak itu tidak sulit disaat kita benar-benar merasa tertekan layaknya duduk merunduk di pojok penjara kumuh...
Muncullah bijakku karena berbentur dengan lingkungan yang kekanan kemudian lurus. .
Toh sekarang, aku menentukan satu wanita saja sulit..
Disini ada, disitu ada,, apa dunia ini hanya dihuni wanita yg harus aku pilih salah satu..
Ada, tapi aku minder,
apa aku harus naik kebukit kemudian berteriak mendengar jawaban gema yg berbeda?
Klaten, 4 Juni 2009
Terima kasih telah membaca artikel: Jangan Sampai Salah Ciptakan Sejarah
Keadaan masa lalu adalah saksi disaat aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang tak ada manfaatnya.
Mending kita lakukan kesalahan tapi ada manfaatnya. Agar kita semakin mengingat bijak.
Tiap sore melihat bulan yang hanya separuh lama-kelamaan menjadi utuh, tapi tak begitu dinamis langkahku untuk perjuangkan janji bersama kekasih. Atau bahkan terlalu dibuat dinamis, karna dilihat ada satu dua tiga empat yang sempat merasakan kekecewaan?
Bijak itu tidak sulit disaat kita benar-benar merasa tertekan layaknya duduk merunduk di pojok penjara kumuh...
Muncullah bijakku karena berbentur dengan lingkungan yang kekanan kemudian lurus. .
Toh sekarang, aku menentukan satu wanita saja sulit..
Disini ada, disitu ada,, apa dunia ini hanya dihuni wanita yg harus aku pilih salah satu..
Ada, tapi aku minder,
apa aku harus naik kebukit kemudian berteriak mendengar jawaban gema yg berbeda?
Klaten, 4 Juni 2009
Terima kasih telah membaca artikel: Jangan Sampai Salah Ciptakan Sejarah
Don't distrub me, PUP Dicelana
Gw tergolong siswa cerdas pada waktu itu, waktu disaat gw kelas tiga kredibilitas gw dalam belajar rerlu di perhitungkan. Gw sering tu dapat nilai paling yahud (bagus) di ulangan-ulangan (pretest) gw. Tp gw ga bakal ngomongin kalo gw pinter waktu itu, tp gw mo ngomongin keadaan waktu ulangan, hahah najis gw nersong (narsis). Disaat diadain ulangan IPS ama guru, gw ngerti disaat itu cukup memeras keringat untuk menjawab soal-soal dari guru. Nahhhhh ini kejadianya, dipertengahan gw ngerjain gw tu ngrasa bau PUP. Gw tanyain tu ama kedul yang notabennya temen sebangu gw, dul lu ngrasa nyium bau tai’ ga? Jawab kedul, iya gw nyium bau tai’. Nah mulai itu smu murid riuh saling nuduh. Tapi gw emang udah nebak kalo yang pup si kedul, gimana ga nuduh, baunya saja kayakorang ga pernah pup slama seminggu *bayangin*. Gw jitak tu kepalenya kedul sambil bisik-bisik, gw introgasi dia, tapi teteeeeep saja dia ga ngaku. Hahaha.. trus guru bilang, “siapa yang pup dicelana?”. Wuis kedul paling ngotot kalo yang pup dicelana itu si borok. hahahahaha. Sampai sudah bel bunyi tanda pulang. Seperti biasa, geng cuin (gw, kedul, gendud) cabut wat pulang bareng-bareng pak sepeda ontel masing-masing. layaknya anak kecil yang bertingkah kesetanan kayak reog yang naek sepeda, kita jumping-jumpingin tu sepeda. disaat itulah kedul ngaku kalo tadi yang pup itu dia. Wah songong, gimana ga ngaku kalo memang dia sudah kepalang basah karena pup’nya jatuh dari celana. Hahahahahahahahahahaha
Anggota baru nginjek anak kucing
GW Kelas Satu SD
Gw punya temen dalam kelas namanya Ridlo Mubarok, dia popular dan kocakdidalam kelas karena itu banyak temen yang mau duduk sebangku ama dia. Termasuk gw, kedul, ama gendud. Karena temen-temen gw pada takut ma gendud makanya yang boleh duduk semeja ama anak emas (Ridlo) hanya gw, kedul ma gendud. Nahh kita gilir tu jadwal duduknya. Sehari buat gw, sehari buat kedul, sehari buat gendud. Gw juga bingung ngapa gw waktu itu ngarep banget duduk ama ridlo, bukanya hombreng ( homo) tapi mungkin karena karakter dia yang lucu kali. Oiya gw lupa, gw sekolah di SD N I Ngawonggo 2. gw lanjutin critanya, disaat jadwal gw duduk ama ridlo yang punya panggilan “borok”, ga ngerti kenapa gendud nyidam juga pingin duduk ama borok. Nah ga trima kan gw, kita trus berantem tu, ampe gw nangis. Lalu gw ma gendud dibawa ama bu Sum ke kantor buat disidang. Di tanyain tu gw ama gendud, ditanya inilah itulah dikasih beginilah begitulah, ah ga ngerti ocehan itu karena gw ahsyik mendendangkan puisi sederhana.
Huwaaaaaaaaaa hiks. . .
Huwaaaaaaaaaa hiks
Hiks huwaaaaaaaaaa . . . .
Hiks hiks hiks ,……
Huwwwaaaaaaaaaaa
( narik ingus )
Huwaaaaaaa ……. Hiks . .
Ø bagus ya puisi gw J
setelah omelan bu sum kelar, berhenti puisi gw. Disuruh jabat tangan gw ama gendud. Setelah gw keluar si kedul malah cengengesan ngledek gw. Lalu gw, kedul ama gendud janji buat ga duduk ama borok.
NIKMATNYA MENCARI ILMU
Begadangku demi merengkuh ilmu semata, lebih terasa lezat dari mengunjungi orang kaya dan berkalung perhiasan yang indah rupa.
Goresan penaku di atas kertas-kertas, lebih manis dari kasih dan rindu yang deras.
Lebih nikmat dari undangan gadis yang sedang sendiri dan merindu, adalah persetubuhanku dengn debu yang menempel di buku.
Kesuntukanku untuk melepas tali kesulitan dalam belajar, lebih menyegarkan bagiku daripada meminum arak pasar.
Aku selalu berjaga sepanjang malam, sedang engkau mengisinya dengan tidur berkepanjangan, kenapa engkau berharap sesuatu yg ku dapat?
Rasakan sendiri. NIKMATNYA MENCARI ILMU.
Klaten, 3 Juni 2009
Goresan penaku di atas kertas-kertas, lebih manis dari kasih dan rindu yang deras.
Lebih nikmat dari undangan gadis yang sedang sendiri dan merindu, adalah persetubuhanku dengn debu yang menempel di buku.
Kesuntukanku untuk melepas tali kesulitan dalam belajar, lebih menyegarkan bagiku daripada meminum arak pasar.
Aku selalu berjaga sepanjang malam, sedang engkau mengisinya dengan tidur berkepanjangan, kenapa engkau berharap sesuatu yg ku dapat?
Rasakan sendiri. NIKMATNYA MENCARI ILMU.
Klaten, 3 Juni 2009

