Tampilkan postingan dengan label KAMPUSmu KAMPUSku Juga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMPUSmu KAMPUSku Juga. Tampilkan semua postingan

Download Materi PKn

0 komentar
Materi perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi oleh Danang Tunjung Laksono, S.Pd pada hari Senin, 3 Oktober 2011. Materi bisa di download disini.

Terima kasih telah membaca artikel: Download Materi PKn

Komunitas "Sedekah Kampus"

1 komentar
Niat baik jadilah niat baik. Niat baik dinilai dari sebuah niat seseorang, niat baik bukan dinilai dari bagaimana orang lain menilai seseorang. Biarlah "Langit" yang menilai, karena langit juga yang telah memberikan kita rizki. Dialah Allah yang maha pemurah, Allah yang maha kaya raya tak habis apa-apa-Nya karena untuk memberi rizki kita. Allahlah yang telah membuat rizki datang sendiri, yang telah membuat cicak yang ada di dinding bisa kenyang karena memakan binatang yang terbang, padahal kalau kita tahu tidak ada satupun cicak didunia ini yang bisa terbang. Oleh karena itu, Rizki yang telah menghampiri kita sendiri atas kendali-NYA.
Sabtu, 1 Oktober 2011

Lounching komunitas "Sedekah Kampus" di rintis di fakultas Ekonomi UMS. Bagi yang bersedia gabung ke komunitas ini silakan saja, kami tunggu partisipasinya. Dan hari ini (1 Oktober 2011) akumulasi sodakoh mendapat Rp 2.000.000,-

Akumulasi sodakoh akan disalurkan pada kegiatan Pendidikan, Sosial, dan Untuk beribadah di jalan Allah.

Untuk folow up selanjutnya. Insyaallah komunitas ini akan mencari pembina dari beberapa dosen UMS. Untuk masa yang akan datang diharapkan bisa menular ke fakultas lain. Dan alhamdulillah ekpektasi dari beberapa kawan-kawan fakultas lain menyambut adanya komunitas ini dengan baik dan mereka menyatakan kesediaan untuk merintis di fakultasnya. Dan semoga di Universitas-universitas lain yang belum ada dapat terinspirasi. Niat baik jadikanlah niat baik.

#Ar-Ruum : 41 (Bentuk asli keimanan salah satunya adalah dengan bersodakoh).
Anggota Komunitas Yang Sudah Siap Untuk Bergabung :
  1. Amin Bagus Panuntun 
  2. Andi Cahyo Birowo
  3. Aji
  4. Didik Purnomo
  5. Fentri
  6. Yulia
  7. Mawar
  8. Zidni
  9. Umi Sayembara
  10. Tika
  11. Melani
  12. Budi
  13. Safiq
  14. Irwan
Senin, 3 Oktober 2011 
Setelah mengobrol dengan Ketua LPID dan pengurus, Andi Birowo membawa pesan bahwa pihak LPID sangat mendukung dengan adanya program ini. Hal ini sebagai start point yang baik bahwa segala jenis niat baik pasti akan dirangkul oleh Allah Swt. 
Dan bagi saya khususnya, saya ingin memberikan bekas indah bagi UMS, bahwa kita semua adalah orang-orang yang peduli, bahwa kita semua adalah anak muda yang dididik untuk mengerti realitas kehidupan, bahwa kita dididik oleh ayah ibu kita. Mereka yang telah sayang kepada kita dengan mengajarkan nilai-nilai agama (moral). Ini adalah sebuah kebanggaan, bahwa kita harus menjadi ladang sekaligus asset pahala bagi orang tua kita, bahwa kita adalah seorang anak yang bisa membuat ayah ibu kita bisa naik ke surganya Allah. Surga yang begitu indah dan begitu nikmat.
Dan folow Up selanjutnya besok hari Selasa, tanggal 3 Oktober 2011 akan diadakan acara kumpul bersama untuk membahas kegiatan seru, asyik dan menarik yang seperti apa yang akan kita buat. "Keluarga, Gembira, dan Cinta".

Contact Person :
Amin Bagus Panuntun 085713336242
Andi Birowo 081803829223

Silakan baca juga Label INDONESyalala >> Komunitas Anak Panah Indonesia

 
Terima kasih telah membaca artikel: Komunitas "Sedekah Kampus"

Ke IMM an

0 komentar
Materi Ke IMM an disampaikan pada MASTA (Masa Ta'aruf) 2011 di Fakultas Ekonomi UMS

Materi bisa di download di sini.

Ad/Art bisa di download di sini.


Terima kasih telah membaca artikel: Ke IMM an

PERUBAHAN PARADIGMA SISWA vs MAHASISWA

0 komentar
Saya berinisiatif akan membacakan sebuah puisi karya alm. WS Rendra "Sajak Seonggok Jagung" dalam sebuah acara OSPEK di sebuah kampus swasta di Surakarta pada tanggal 08 September 2011. Saya akan membacakannya pada sebuah materi yang kebetulan saya dipercaya untuk merubah paradigma mahasiswa baru.

Saya berharap dengan materi yang saya sampaikan, dengan melalui pendekatan ilmu, sastra dan seni saya ingin agar apa yang saya sampaikan akan menjadi modal merubah sudut pandang para mahasiswa baru. Sehingga mereka mampu bekerja keras sekaligus mampu menentukan arah akan nasib masa depan dengan menjadi pemimpin bagi bangsa kita selanjutnya, seorang pemimpin yang akan memperbaiki kecarutmarutan negara. Tentunya tanpa harus mengekang seorang mahasiswa agar menjadi apa, namun dengan cara memberikan kebebasan untuk menjadi seorang yang MERDEKA. Menjadi diri sendiri namun tetap mampu mewarnai dan memberikan insprasi bagi orang lain.

Ini adalah file dalam bentuk powerpoint versi 2010 yang berisi materi "Perubahan Paradigma" dapat kalian download di sini.

Terima kasih telah membaca artikel: PERUBAHAN PARADIGMA SISWA vs MAHASISWA

TRANSKIP NILAI

0 komentar
Khusus untuk para mahasiswa / civitas akademika Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo, Jawa Tengah.

Bagi teman-teman yang ingin bisa lihat transkip nilai di LAPTOP sendiri, silakan download softwarenya, di sini.
 




Terima kasih telah membaca artikel: TRANSKIP NILAI

Curahan Mahasiswa #1

0 komentar
Salah satu kepincangan dalam kurikulum di perguruan tinggi pada masa kini ialah bahwa mahasiswa ditimbun dengan semakin banyak bahan mata kuliah yang harus dipelajari, apalagi dengan metode pembelajaran yang masih tergolong primitif. Yang sudah tentu kualitasnya ditentukan oleh kapasitas dosen. Disatu pihak kualitas bahan pun juga terus bertambah, tetapi pencernaannya dengan sendirinya berkurang, karena saking banyaknya mata kuliah yang membuat kita sibuk atau keok dengan tugas, bahkan hal-hal teknis lainnya.

Hal ini bukan berarti cukup sampai disitu. Namun, ini mempunyai hukum sebab akibat yang akan terjadi. Akibatnya, mahasiswa puas dengan pengetahuan formal saja, asal saja bisa lulus ujian. Yang tentu implikasinya adalah banyaknya kecurangan yang dilakukan oleh para mahasiswa. Dengan demikian hal ini justru tidak akan bisa mencapai apa yang sebenarnya diharapkan oleh perguruan tinggi apabila kurikulum diperluas, yaitu agar bahan baru itu betul-betul dikuasai oleh mahasiswa.

Dan kita juga harus tetap ingat, kita sebagai warga di keluarga, kampung kita, Indonesia, dan kita sebagai warga dunia digadang-gadang agar memberikan sebuah pembuktian kalau kita mempunyai tanggung jawab sosial. Lalu, bila kita sendiri tidak tahu bagaimana ide atau gagasan yang harus kita miliki. Tanggung jawab kita sebagai mahasiswa adalah NOL besar.

Padahal jika kita tahu, tidak ada universitas di manapun yang menjamin mahasiswanya bisa pandai dan sukses. Ditambah lagi Ilmu-ilmu formal tersebut juga tidak akan pernah menjamin kita bisa mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Ini bukan masalah suka atau tidak suka dengan suatu kebijakan, karena Masa depan kita di tentukan oleh karakter pribadi kita masing-masing. Dan dalam ilmu-ilmu formal tersebut juga tidak ada salah satupun mata kuliah yang mengajarkan pelajaran pembentukan karakter secara utuh. Kecuali di lingkungan kita dan penggemblengan diri sendiri. Padahal seperti yang kita ketahui diatas, kita semua sama-sama sudah sibuk dan keok. Artinya, kita sulit untuk menentukan kemana nasib/masa depan kita selanjutnya.

*Buat Komunitas Mahasiswa Merdeka
Klaten, 5 Agustus 2011
Terima kasih telah membaca artikel: Curahan Mahasiswa #1

Dosenlah Yang Menilai

0 komentar
Ada banyak mahasiswa yang dapat nilai jelek atau mahasiswa yang dapat nilai bagus. Ya, Itu sangat lumrah. Tapi ketidaklumrahan itu timbul saat kita dapat nilai jelek lalu kita ga terima, benci, keki, marah dan lain sebagainya, intinya meminta pertanggungjawaban dosen. Kemudian tindakan paling otomatis yang kita lakukan tentunya adalah protes. Itu ga salah, karena protes itu menunjukkan bahwa kita menginginkan keadilan, kita sama-sama masuk kuliah, sama-sama ngumpulin tugas dengan jawaban sama, sama-sama presentasi, sama-sama bisa atau ga bisa jawab soal ujian. Tapi kenapa nilainya bisa berbeda. kenapa ada yang dapet nilai jelek dan ada yang dapet nilai bagus.

Lain halnya, Kenapa yang dapet nilai bagus tidak protes? dengan gagah seperti pahlawan dia datang, "hei, pak dosen. Kenapa nilaiku bisa bagus. Ini tidak adil, saya berontak. Saya merasa kalau saya ga bisa apa-apa pada mata kuliah bapak. Saya benar-benar kosong." Rasa-rasanya kita seperti telah adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Kalau kita ga pantas buat dapet nilai baik itu.

Nah kenapa terjadi semacam ini, terjadi kesenjangan nilai yang membuat ada yang merasa menerima ketidakadilan. Bisa karena keteledoran dosen sebagai manusia, misal sebenernya kita sudah ngumpulin tugas, tapi dosen tidak tahu karena terlalu sibuknya dia mengurus kuliah S3 nya atau sibuk ngurus bisnisnya yang lebih menguntungkan daripada jadi seorang dosen. Atau malah ketidakadilan itu bisa timbul karena dia adalah seorang dosen yang iseng tidak mau kerja keras menilai yang semestinya dinilai, dosen yang bukan dosen, atau bahkan dosen kranjang sampah.

Kita ga bisa terus-terusan menyalahkan dosen, kita harus lihat bagaimana kita sebenarnya, kita ga boleh terus-terusan egois, kita ga berhak memperalat dosen sebagai kambing hitam dari semua nilai jelek. Atau bahkan Mahasiswanya yang memang bebal mendzolimi dosen? Dengan kemalasan kita, dengan ketidakdisiplinan kita, atau dengan ketidakmandirian kita.

Bila kita tahu, dunia sebenarnya ga akan runtuh kalau kita dapat nilai jelek. Tapi sebenarnya, kita hanya takut pada penilaian orang lain yang sangat begitu semu.
Yang sebenarnya membuat hidup kita ga asyik lagi bagi orang-orang yang merasa ga beruntung. Bukanlah menarik, keberuntungan itu timbul karena kita sendirilah yang sebenarnya menciptakannya. Kita dapat nilai baik karena kita memang pantas dapet nilai baik. Karena kepantasan itu memang kita ciptakan dari kerja keras kita untuk belajar menerima dan memberi. Oleh karena itu saatnya kita mulai adil sejak dalam pikiran, perasaan dan perbuatan.

Sehingga ga akan ada lagi istilah "Siapa yang akan tahan kalah, bila pemenangnya memperoleh dengan cara-cara curang". Karena memang sudah ga ada lagi orang curang.

Oleh Amin Bagus P
*Buat Komunitas Mahasiswa Merdeka
Solo, 28 Juli 2011
Terima kasih telah membaca artikel: Dosenlah Yang Menilai

CERITA MAHASISWA

0 komentar
Bagaimana kalau sekali-kali kita ga hanya mikirin tugas dari dosen yang numpuk.Bagaimana kalau sekali-kali bahan cerita kita bukan dosen yang kejam dan ga masuk akal.Bagaimana kalau kita buat mahasiswa jadi asyik.
Sekali-kali kita juga perlu seneng-seneng.
pergi ke mall
Bermain ombak yang susul menyusul saat dipantai
Makan bareng di tempat yang jarang dipikirkan oleh orang-orang
masak-masak bareng dirumah teman

Sekali kali juga kita boleh
Bikin resah ayah bunda karena kita pergi naik gunung
Bawa kardus pakai almamater kita bareng-bareng cari tambahan dana buat korban bencana alam
Bareng-bareng Pergi ke toko buku loak
bareng-bareng kita ngajar TPA atau buat kelas dongeng bagi anak-anakatau barangkali
bareng-bareng kita swadana buat jenguk teman kita yang sakit
bareng-bareng kita hibur temen-temen kita yang sedang kena masalah
bareng-bareng kita peduli sama orang yang membutuhkan
bareng-bareng kita kumpulin duit buat sekolahin anak yang kurang mampu
bareng-bareng kita buat lingkungan kita sebersih mungkin dengan buang sampah di tempatnya
Itu kita lakukan Bareng-bareng... Bukan malah kita jadi orang yang sok egois, padahal kita juga kepingin seperti itu...
Iya bukan?

Kita itu juga perlu tertawa...
ditempat-tempat penuh seni, sastra dan budaya
kita lihat teater bareng-bareng
kita lihat pertunjukan wayang bareng-bareng
kita lihat pertunjukan tari bareng-bareng
kita lihat pertunjukan bava puisi bareng-bareng
kita lihat pertunjukan anak-anak yang lucu bareng-bareng

kita juga perlu peduli...
Kita bareng-bareng lihat siapa orang tua kita
apa kita tahu kalau ternyata ayah kita hanya punya uang dua puluh ribu rupiah tapi kita tetap merengek
apa kita tahu kalau kita jarang sekali membicarakan hal-hal yang remeh temeh yang sebenarnya menarik
apa kita tahu kalau kita itu wangi sendiri dibanding temen-temen kita, bukankah kalau semuanya wangi itu lebih asyik
apa kita tahu kalau kita itu

(Kalau pingin nerusin hal-hal soal kebersamaan dengan temen yang pingin banget kamu lakuin silakan tulis di komentar)

Oleh Amin Bagus Panuntun
diatas motor, 25 Juni 2011

Terima kasih telah membaca artikel: CERITA MAHASISWA

Essai "Pendidikan"

0 komentar

ESSAI "PENDIDIKAN"

oleh Amin Bagus P pada 19 April 2011 jam 23:29
Bila kita tahu, Tujuan yang tidak kasat mata "Pendidikan" sekarang adalah memenuhi kebutuhan Pasar.

seperti yang dituliskan Louis O. Kattsoff

"Kebebasan akal hanya terjadi melalui pendidikan yang bebas
berdasar penyelidikan kefilsafatan ...

Dewasa ini kita banyak mendengar tentang pendidikan yang bebas dan kebutuhan pandangan yang luas. Pada hakikatnya apakah yang tersangkut dalam hal ini? Sesungguhnya, banyak pendidikan dewasa ini didasarkan atas suatu pandangan dunia yang mengatakan bahwa pencarian nafkah merupakan kebaikan tertinggi.

Menghasilkan seorang ahli yang cakab, terlampau sering menjadi tujuan pendidikan yang hendak kita capai. kita mendidik para ahli di bidang kedokteran untuk menjadikan diri kita lebih sehat, demikian pula dibidang-bidang lainnya. tetapi sayang, kita cenderung lalai mendidik ahli-ahli yang dapat menjadikan kita lebih bijaksana. Tujuan pendidikan yang demikian menyebabkan para ahli tersebut tidak bisa membuat kita menjadi lebih bijaksana. Mereka banyak mengajarkan kepada kita "bagaimana cara berbuat" tetapi bukannya "mengapa berbuat demikian".

Untuk mengetahui mengapa orang berbuat, seseorang perlu mendapatkan pendidikan khusus yang dapat membekali analisa yang kritis dan kecakapan bersinestesia dalam memberikan tanggapan-tanggapan. tetapi disamping itu. "mengapa berbuat demikian" hanya dapat diperoleh melalui proses yang bertentangan dengan pendidikan keahlian yang memusatkan perhatian kepada hal-hal yang khusus. Proses tersebut ialah penyusunan suatu pandangan dunia berupa sintesa, yang menjadikan "mengapa berbuat" mengandung makna: suatu sintesa prinsip-prinsip yang paling utama di segala cabang pengetahuan".

Selain kesimpulan diatas, bila kita menganalisis akibat dari pendidikan yang mengajarkan "bagaimana cara berbuat" sudah tentu akan banyak dokter yang akan banyak berdo'a agar banyak orang sakit, seorang politikus menggunakan seni konspirasi atau melegalkan demokrasi transaksional maupun demokrasi kriminal guna memperkaya diri dan golongannya, Guru akan mendidik lebih manusiawi dengan daripada sibuk memikirkan gaji yang kurang sesuai (Karena pemerintah sudah memberikan gaji yang tinggi bila para pembuat kebijakan adalah seorang yang dididik untuk mengerti "mengapa berbuat demikian" ) atau bahkan seorang penggali kubur demi mendapatkan pekerjaan akan berdo'a agar banyak orang yang mati.

Hal-hal ini perlu diwaspadai serta disekenario ulang sejak sekarang.

***

Kita tahu bahwa segala jenis pendidikan itu perlu, karena manusia yang berpendidikanlah yang akan mewujudkan sebuah peradaban yang baik. Termasuk juga pendidikan formal, sering kita sebut SEKOLAH.
Sekolah menurut peraturan pemerintah mempunyai otonomi tersendiri dengan porsi tertentu, namun karena birokrasi yang salah maka timbul apa yang disebut 'loyalitas terhadap dinas'. Maksud saya, sekolah tidak mampu lagi berbuat banyak untuk menjadi sekolah yang mencerdaskan masyarakat. Para birokrat lebih sibuk memakai lipstik dan bedak agar terlihat lebih cantik dihadapan birokrasi diatasnya.

Anies Baswedan seorang rektor termuda universitas Paramadina telah mewujudkan basis beasiswa yang diperoleh dari pasar. "Saya tanya mereka “Apakah mau pendidikan kita seperti ini,?” semuanya mengatakan tidak. Dan lebih mudahnya lagi adalah perusahaan-perusahaan swasta adalah pemanfaatan orang-orang terdidik tanpa mengeluarkan biaya sama sekali".

berarti bisa saya tarik kesimpulan, karena pendidikan itu berorientasi pada pasar. Maka, bila pendidikan tidak menciptakan para ahli-ahli yang dibutuhkan pasar, tentunya pasar akan keok. Ada hubungan timbal balik seharusnya, namun yang kita lihat hal-hal tersebut tidak ada. Pasar terlalu kuat untuk mendekte pendidikan. Sedangkan hasil dari pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat menjadi banci, tidak mampu menunjukkan eksistensinya sebagai masyarakat berpendidikan yang MERDEKA.

Tentunya benar kata seniman kita Putu Wijaya. "Kemerdekaan bila dimiliki orang yang belum siap menerima kemerdekaan, maka kemerdekaan itu adalah kematian". Seperti kematian wajah Pendidikan Indonesia saat ini.

***

Fenomena yang banyak terjadi sekarang, pelaku teroris dari bom atau bom bunuh diri, tawuran antar warga, tawuran suporter sepakbola yang sulit dikendalikan, perang antara warga dengan TNI, korupsi, pengemplangan pajak, kasus money londry, dan lain sebagainya. Riset mengatakan bahwa ini semua karena pendidikan masyarakat yang lemah. Tentunya pendidikan yang saya maksud adalah pendidikan Spiritual, moral, kemanusiaan, akhlaq, pengetahuan, kebijaksanaan, kepemimpinan, dan yang mempunyai andil lainnya.

Jawabannya...
Bagaimana bila sekolah merupakan pusat pengetahuan, bukan lagi sekedar pusat pendidikan yang dapat kita saksikan di sekolah-sekolah dewasa ini.

Misalkan selain diadakan proses belajar mengajar formal Guru dan murid, masyarakat lokal bisa memiliki sekolah guna pembentukan akumulasi-akumulasi pengetahuan dan kebudayaan. Dengan sekolah memiliki perpustakaan umum, perpustakaan itu bisa menjadi daya tarik masyarakat sekitar untuk selalu membaca buku. Menambah pengetahuan masyarakat. Selain itu akibat-akibat yang lain tentu akan lebih banyak. Karena masyarakat mulai terbuka pikirannya dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH. SU Pernah bilang "Universitas-Universitas tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk menjadi pandai dan sukses. Tapi Universitas dibangun bagi mereka yang ingin pandai dan meraih sukses. dan Sewajibnya di Universitas di tempa kecerdasan otak, digodok kematangan emosi dan dibina keluhuran watak".

Peradaban yang baik pastilah yang kita harapkan, Kedamaian, Kemandirian, Kesuksesan, Kekayaan, Kenyamanan, dan unsur-unsur lainnya Ingin Segera kita wujudkan.

Oleh AMIN BAGUS PANUNTUN.
Rumah, 19 April 2011

Terima kasih telah membaca artikel: Essai "Pendidikan"

Dunia Kampusku

0 komentar
Bagaimana kalau mahasiswa S1 hanya diajar oleh dosen pangkat S1? SDM juga merupakan salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi. Kata seorang dosen kepada mahasiswanya. Namun, yang ada dipikiran Aba, Saya tidak peduli dengan itu semua, yang saya pedulikan adalah bagaimana ilmu itu bisa menjadi makanan utama bagi dosen dan mahasiswanya. Namun bila kapasitas dosen lebih tinggi, aku rasa itu sebagai bonus.

Saat semua orang telah berbicara tentang Ilmu, tentunya tidak ada alasan untuk kecewa. Ilmu bukan hanya didapat dalam kelas formal, katakanlah bangku perkuliahan model klasikal. Bila kalian tahu, Aba ikud kuliah hanya untuk mencari nilai, tapi entah kenapa saat dosen'nya mampu membicarakan ilmu dengan sudut pandang yang berbeda. Dia sangat antusias, menjadi teman dosen dalam mencari ilmu.

Aba pernah diajar dosen, yang dia pikir dosen paling tidak bermutu di kampus. Namun suatu saat Aba kaget, karena dosen itu sudah menyandang gelar Doktor. Namun karena ada dosen yang saya sebutkan diatas pernah bilang kalau banyak dosen dikampusnya lulus dengan tidak mengerjakan disertasi sendiri, namun dibuatkan orang lain. Itu namanya dosen brengsek. Dan Abu tidak lagi sembarang percaya dengan gelar doktor. Dia lebih percaya dengan bagaimana cara pengajaran dosen, apakah aktuil atau tidak.

Aba, ternyata salah. Memberikan dosen tidak bermutu itu, ternyata tadi dia menemukan dosen paling parah. Sebenarnya Aba kasihan dengan adik-adik kelasnya, Dia ingin mengajari adik-adik kelasnya tentang bagaimana mengupayakan keadilan bagi mahasiswa. Namun urung, hal itu tidak terjadi karena dia berpikir mahasiswa sekarang pengecut. Mengangap dosen yang dzolim itu biasa. Merasionalkan kesalahan sebagai tanda menghormati dosen.

Ada seorang dosen, yang karena mempunyai sifat kekanak-kanakan. mahasiswanya menggunakan evaluasi dosen untuk menggulingkan dosen. Itupun juga terjadi di kampus Aba. hahahaha, kadang-kadang ini semua adalah lelucon.
Namun pada intinya, dosen yang mempunyai sifat kekanak-kanakan dia harus pergi ke kranjang sampah. Dan mahasiswa yang kekanak-kanakan pasti akan menjadi beban masyarakat dan negara, Karena dia akan keluar menjadi masalah.
Terima kasih telah membaca artikel: Dunia Kampusku