Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

CERPEN "NGOMEL" (COP)

0 komentar
Dimalam-malam begini, patung-patung punokawan yang beberapa waktu yang lalu tak terbeli di warung karena harganya mahal tiba-tiba sukmanya datang ke kamarku. Pertama kali datang Petruk, lalu diikuti yang lain sebagainnya macam Bagong, Gareng, Semar, Bima dan Prabu Yudistira. Mereka datang susul menyusul. Nampaknya mereka ingin menemaniku yang sendirian di dalam kamar. Mereka ingin saling asah asih asuh antar sesama. Sebenarnya ini nampak seperti Bangsa lain yang sedang berkunjung ke bangsaku. Tapi aku sendiri bingung, kenapa mereka begitu. Apa hanya karena mereka tak terbeli. Maksud saya apa karena mereka sebenarnya ingin kebebasan. Mereka terkurung dalam kotak pedagang-pedagang itu. Waktu toko buka mereka dipajang di belakang. Waktu toko tutup mereka di simpan dalam kotak. Rasa-rasanya mereka sebenarnya kebosanan, kalau tidak berbuat apa-apa. Hidupnya nampak linier, statis, monoton. Hanya hal-hal itu saja yang dia lakoni.

Petruk datang lalu ngomel-ngomel.
"Aku kalau punya facebook aku pingin statusnya di like sama orang-orang yang benar-benar tulus. Maksudnya, yang tertulis itu memang benar-benar bermakna bagi orang-orang yang berkepentingan".

Disahut prabu Yudistira yang nampak muncul menembus pintu kamarku. "Bangsa kita yang sebenarnya hancur sudah. Kita bermigrasi ke bangsa Facebook, twitter dan sebagainya. Jadi silakan tertawa sepuasnya".Nampaknya akan benar-benar terjadi rapat dikamarku. Parabu Yudistira lah yang bakal memimpin rapat.

"Wah kalau begitu, bakal banyak kepalsuan kalau rakyat sudah mulai pergi ke Facebook atau Twitter, rakyat jadi makin pandai ngomong gombal" kata gareng sok tahu. Muncul dari genting lalu duduk bersila.

"Lho! Apa kamu tidak punya facebook atau twitter? Kamu kan suka mencitrakan siapa dirimu lewat status atau TL'mu. Kamu kan yang biasa diam-diam ngintip omongan orang-orang lalu diam-diam bilang cuiih." Kata Bima menolak omongan gareng yang tiba-tiba muncul dari bumi.
 
Bagong lalu bisik-bisik sama gareng dan petruk. "Coba kalau yang ngomong bukan Bima yang suka main kasar, sudah ku sumpal mulutnya sama sempakku. Aku ngerti dia juga punya Facebook dan Twitter. Apa bedanya sama kita?" Bagonglah yang tiba-tiba muncul bak pesulap saat beraksi.

"Begini saudara-saudara. Memang kita punya keyakinan, lalu kenapa kita harus marah bila orang lain sedang mengukuhi keyakinannya? Jangan-jangan kita pada posisi yang salah. Kita harus mencurigai pikiran kita sendiri sebelum mencurigai orang lain. Siapa tahu mereka sedang ada maksud baik." Kata semar mengakhiri. Lalu Rapat dikamarku pun bubar karena ada politikus bangsa yg sebenarnya yang mengacau menghina.

Aku yang keheran-heran atas kedatangan mereka, masih nampak takut dan keheran-heran. Padahal dipikiranku ada yang ingin aku sampaikan. Namun karena takut dan kaget, apa yang ingin kau sampaikan tak mampu ku sampaikan. Barangkali ini karena syaraf-syaraf setelah operasi otak yang ada dikepala aku pindah menjadi di dengkul masih ada syaraf yang keliru, masih ada syaraf yang salah sambung. Padahal jelas sekali aku memikirkan bahwa : Bila kita tak sabar mendengarkan atau membaca sampai selesai, bisa-bisa kita salah dalam mengambil kesimpulan. Yang seharusnya ada beberapa kalimat lagi sebagai penjelas, namun karena kita terlanjur merasa sudah bisa mengambil kesimpulan akhirnya kesimpulan yang kita dapat berbeda dengan yang sebenarnya. Dan sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa "Berapa banyak perang yang terjadi, hanya karena kesimpulan yang keliru".



*Oleh Amin Bagus Panuntun 
Kamar, 20 Desember 2011

Ternyata cukup susah juga membuat fiksi yang menceritakan orang-orang yang terlanjur mempunyai karakter. Bukan hanya karena ini kontemporer lalu kita dengan seenaknya menggantikan kearifan semar, kebijaksanaan Prabu yudistira atau kekuatan Bima. Inilah sebuah cerita fiksi yang saya buat karena iseng. Sebuah cerita wayang kontemporer. Contemporer of Puppet.


Terima kasih telah membaca artikel: CERPEN "NGOMEL" (COP)

Cerpen "Nyahok"

0 komentar
Memang, semua lelaki itu brengsek, timpalnya setelah melihat berita pemerkosaan di tivi lawas ukuran 14 inci.

"Lhoh, kok begitu... Lelaki itu brengsek kan memang karena sejak dari awal banyak Ibu yang bodoh", Seloroh seorang lelaki sambil tetap sibuk buka baju.

Bagaimana bisa? Antara lelaki dan ibu itu kan jauh! sahutnya sambil mengunci pintu kamar.

"Wah kamu lupa ya, semua lelaki itu kan sejatinya juga seorang anak. Kalau semua Ibu bener didik mereka, mereka juga tidak mungkin brengsek". Jawab lelaki itu sambil melucuti daster setelah dia kembali dari mengunci pintu.

dan akhirnya mereka berdua bergumul di atas ranjang, saling berciuman seperti mencari kepuasan di kamar. Menyublimkan kulit, mengerak-gerakkan badan, sambil sesekali mengumbar kalimat sayang diikuti gerakan mengelap peluh keringat yang bercucuran. Mereka lakukan berulang-ulang. Sambil memilin-milin sesuatu yang bisa dipilin, bahkan jempol kaki, pokoknya yang bisa dipilin mereka pilin. Mereka lakukan berulang-ulang sambil mengumbar kalimat sayang. Mereka mengumbar kalimat sayang sampai tak peduli bahwa kalimat sayang sudah tidak ada artinya lagi. Sampai akhirnya mereka berhenti setelah mobil istrinya mengklakson dari garasi. Mereka berbenah benah memakai baju, saling mengoreksi bila ada yang bisa buat wanita dalam mobil itu curiga.


Namun sebelum Lelaki itu keluar dari kamar, lelaki itu menyuruh wanita itu agar mencuci celana dalamnya, dan berpesan agar dia dan istrinya dibuatkan sarapan yang cukup lumayan enaknya. sambil kopi panas untuk menikmati pagi.

wanita itu dengan manja-manja bilang, "Baik, tuaan"



***

Bagaimana kasus pemerkosaan itu mah? dimenangkan oleh siapa?

"Wah, bener-bener pah, memang semua lelaki itu brengsek". Jawab istrinya sambil menikmati telur dadar

Lho, memangnya bagaimana mah?

"Ya.. Masa wanita itu diperkosa di masjid. Memang dia tidak takut disunat malaikat apa?"

Wah... Itu mah sudah kelewatan. Seperti tidak ada tempat lain saja.
Laki-laki macam itu sebaiknya dipenjarakan yang lama saja mah.

"Tidak pah, tadi saya sudah memutuskan kalau lelaki itu saya beri hukuman penjara cukup sebulan saja".

Kamu sudah gila mah, itu kan tidak berperi kemanusiaan? masa lelaki yang tak tau adat hanya dihukum sebulan saja.

Sambil memicingkan mata istrinya bilang. "Tidak apa-apa pah, yang penting sebagai barang bukti, alat kelaminnya disita oleh negara. Biar, ini jadi hukuman bagi laki-laki yang suka jual burung".

Waaahh.. Nyahok! Lelaki itu menundukkan muka.

Oleh Amin Bagus P
Kamar, 31 Oktober 2011

Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Nyahok"

Cerpen "Surat - Surat"

0 komentar
(1)

Yang, aku rindu dengan mu, rindu dengan senyummu yang paling lebar. Kau selalu saja buatku merasa teduh, merasa ada teman dalam suka dukaku. seperti halnya ibu yang mendongeng untukku agar aku bisa tidur dengan lelap dan nyaman. Aku rindu padamu, yang.

 Pada malam ini aku tak bisa tidur sampai subuh. Aku simpan tulisan itu didalam laci meja yang ada di dalam kamar. dengan perasaan penuh harapan. Tapi aku tidak bisa menjelaskan harapan apa yang aku inginkan. Ini semua benar-benar tidak jelas. Itu karena ulahmu atau karena kesalahanku. Kesalahan yang mana? aku bingung. Tiba-tiba air mataku menetes, barangkali tetesan ini tanda kebuntuan yang aku hadapi.

Adzan, sebelumnya ayam berkokok bersahutan. Aku belum tidur. Aku perlu sholat agar aku bisa mengerti soal kegundahanku ini. Ah, tidak. Aku tidak boleh bersikap seperti ini. Sholat bukanlah jawaban untuk menjawab kegundahanku. Aku bisa saja salah niat, aku menelikung niat sholat untuk memuja Tuhan menjadi niat untuk memperoleh jawaban murahan. Tapi bagaimana mungkin, pikiranku untuk menjawab ini semua sudah mentok. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengakhiri apa yang tidak aku ingini. Aku ingin kau kembali kepadaku. Tapi aku juga bingung, kenapa kau tiba-tiba pergi.

***

Pagi adalah tempat untuk menikmati bahwa segala aktifitas kemarin adalah sebuah sejarah, dan pagi adalah awal untuk memperbaiki hidup yang masih tanda tanya untuk melanjutkan hidup. Tapi pagi ini aku baru bisa tidur. Bahkan tiap malam aku bertemu dengan keadaan seperti ini. Bukan, bukan malam ini saja. tapi setiap malam. Aku benci hari-hariku sekarang, hariku tidak lagi ada kau yang biasa mengumbar kemesraan kepadaku. Membuat aku senang, Membuat piluku hilang dengan wajah menjadi berseri kala pagi datang. karena itu tandanya aku akan bertemu kau. Dan kau kembali mengumbar perasaan.

Katamu "Aku sayang kamu" Aku itu kamu, tapi kamu itu aku. Sekarang semua penuh ketidakjelasan. Kata-kata, ah... kenapa harus ada kata-kata mesra, kata-kata yang kau ucapkan itu sekarang menjadi kata-kata penghianatan.

***

Dalam selembar kertas aku menulis lagi, pada malam ini aku ingin kau kembali kepadaku.

Bila kau tau, Batin ini sudah begitu hancur, dan kau yang membuat, BRENGSEK! Kenapa kau tiba-tiba meninggalkan aku begitu saja. Kau campakkan kasih-sayangku kepadamu. Apa kau sudah punya wanita yang lebih cantik dan lebih molek dari aku. Apa aku kurang baik untukmu? Apa aku ? Oke, Aku benci kamu!  Kau EGOIS,! Kau tidak peduli lagi. Anjing...

Air mataku menetesi kertas, meninggalkan bercak-bercak tetesan air. Tanda bahwa dengan ini sebaik-baiknya pengganti darah yang mengucur saat aliran nadi kasih sayangku kepadamu kau putus begitu saja. Aku juga merasakan bahwa aku juga egois, bukan hanya dia. Benar, dia aku anggap egois karena aku melihat bahwa bukan dia saja yang mementingkan perasaannya sendiri, aku memaksakan perasaannya agar dia kembali padaku, dan memberikan perhatian kembalipun juga perbuatan egois. Ah, intinya AKU SEKARANG BINGUNG!

Kokokan ayam terdengar lagi dengan sia-sia. Karena kokokan itu bukan membuatku bangun dari tidur lelap dengan mimpi-mimpi indah bermesraan bersamamu. Bagaimana tidak sia-sia, aku belum tidur. Tidak normal tidur tepatnya, barangkali ini juga sebuah kegilaan. Karena ada perbedaan perasaan, pola pikir, jasmani yang semakin payah. Yang paling jelas adalah perubahan aku jarang tidur seperti biasanya. Barangkali kau disana sudah enak-enakan mimpi bergandengan tangan mesra, membuat puisi-puisi cantik untuknya, pacarmu yang baru.

Setelah sholat subuh, dia tiba-tiba tertidur meninggalkan selembar kertas yang ada di atas meja. Bukan kertas biasa, dia harap lain kali akan menjadi surat yang akan dikirim ke orang itu.

***

Kebuntuan, Ya! KEBUNTUAN.
Lama-lama hal ini menjadi biasa, menjadi wajar. Menjadi sebuah kedamaian baru, kalau aku harus tetap melangsungkan janji pagi bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

Manisku, bila kau tahu. Aku sekarang sudah janji pada diriku sendiri, aku harus selalu berpikir positif. Seperti katamu setiap aku meminta nasehat saat aku menghadapi masalah. walaupun kau tidak ada disisiku secara fisik, namun kau selalu ada dengan nasihat-nasihat baikmu. Hidup ini harus tetap berlanjut, ada atau tanpamu, manisku.

Tiap malam hal ini selalu terjadi, karena kebuntuan semua malah menjadi terbuka. Aku ingin kau membalas surat-suratku, akan aku tunggu. Bahkan sampai aku sudah bisa melupakanmu. Kau benar manisku, cinta itu tidak buta.
Namun harapan itu harus selalu ada, harapan dalam bentuk cinta atau dalam bentuk cita. Setidaknya semua harus lebih baik. Seperti lucunya anakku kelak yang lahir dari rahimku bersama orang lain. Anakku yang tersenyum lebar hingga kuping.

Hanya saja aku perlu waktu untuk menerima setiap jenis perubahan.

(Rumah, 1 April 2011) Bukan isinya yang aku pentingkan, tapi nilai dari isi yang ingin aku sampaikan.
Oleh Amin Bagus Panuntun


(2)

Hei, perempuan. kau tahu? kau membuatku gila.
kau punya suatu ritem tersendiri di kepalaku, memiliki suatu irama tersendiri dan aku masih tak mengerti kenapa kau tetap bertahan.


oh tunggu, kurasa aku tahu apa yang sedang terjadi. kesedihanmu tertutupi oleh riasan yang terpantul di cermin.
kau berkata pada dirimu sendiri bahwa ini tak akan terjadi lagi. kau suka menangis sendirian, setelah itu kau berkata bahwa ia berjanji tak akan menyakitimu lagi.


"aku tak apa. percayalah." katamu di suatu senja yang menyala.
tapi aku masih bisa mencium aroma dusta di sela-sela nafasmu. aku melihat adanya suatu bias cahaya yang terpancar di mata beningmu itu. terasa menahan sesuatu. dan siapapun dirinya, aku yakin bahwa dia tidak betul-betul mengenali dirimu.


benda runcing itu sudah merangkak ke angka 2. dan aku masih saja membuka mata. terasa berat untuk menggerakkan mata ini agar segera terpejam. banyak hal-hal brengsek yang berseliweran di otak. seperti sinyal-sinyal handphone yang selalu ruwet mengitari kita tanpa kita sadari. dari sekian banyak hal, ada beberapa hal yang menarikku untuk memasukinya lebih jauh. salah satunya adalah perempuan itu.


ya, perempuan itu. sepintas dia sama saja dengan yang lain. tidak begitu jelek, menurutku. namun juga tidak begitu cantik. biasa saja. rambutnya panjang dan berwarna kecoklatan. aku tak tahu apakah warna itu alami atau artifisial. dan aku juga tidak peduli. tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan kulitnya berwarna kuning langsat. cocok dengan warna rambutnya yang seperti itu. matanya bulat lebar dan indah, bening. bibirnya merah tanpa harus ada pemerah. semuanya terlihat begitu alami tanpa harus ada polesan yang sengaja digoreskan. ahh, perempuan...


***


"hei!" ia berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya kearahku. kulihat senyum itu lagi. kenapa aku harus dibuat untuk bertemu dengan perempuan seperti dia. sedetik kemudian ia telah dihadapanku. tersenyum kembali.


"ini." ia menyodorkan sesuatu. terlihat seperti obat. dan itu memang obat. tapi untuk apa?
katanya agar aku tidar mengeluh terus-terusan tentang perutku yang suka mendadak nyeri. aku masih bisa melihat luka di pancaran matanya yang indah itu. dan hatiku juga terluka ketika aku mulai menyadari bahwa semua keindahannya terhadapku karena ia memang sifatnya untuk peduli dengan semua orang. aku tak mungkin melangkah terlalu jauh dalam mengartikan keindahan yang ia berikan kepadaku. sial...


aku memaksanya untuk bicara. kali ini ia tak mungkin lagi menyembunyikannya dariku. sudah terlalu jelas untuk disembunyikan. akhirnya ia bersedia untuk menceritakan semuanya. dan kembali kulihat butiran bening itu gugur dari matanya yang harus kuakui memang indah. sungguh aku paling tidak tahan melihat seorang perempuan menangis di hadapanku. apalagi menangis karena seorang bajingan seperti dia. tanpa sadar aku ikut terbawa emosi. aku seolah ikut merasakannya. aku ingin sekali memeluknya, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja selama kau bersamaku. namun aku banya dapat menyodorkan sesungging senyum dan sebuah elusan hangat di ubun-ubunnya. serta berkata "jangan menangis, kau pasti kuat." sungguh betapa pengecutnya aku saat ini.


***


seakan tak dapat kutahan egoku ketika aku melihatnya sedang menyakiti perempuan yang benar-benar aku kasihi, aku melihat perempuanku terluka dan lelaki itu hanya terdiam. sepertinya tampang sinis itu memang telah ia miliki sejak dilahirkan. dan bodohnya, perempuanku masih saja menahannya untuk tidak beranjak. sementara aku? hanya melihatnya dari balik tembok penghalang. aku memang pengecut. aku pulang dengan sebuah penyesalan besar. amat besar. kenapa aku tidak dapat berbuat banyak untuk perempuanku?


hei, apakah kamu merasa menjadi lelaki sesungguhnya ketika kau berhasil menjatuhkan ia ke bawah? apa kamu merasa lebih baik? saat ia terjatuh ke dalam jurang? baiklah temanku, aku akan memberitahumu sesuatu. oh tidak, manusia sepertimu tidak pantas kusebut teman. biarlah aku menganggapmu sebagai seorang yang asing, yang baru datang di kehidupanku. dan, aku beritahu kau sesuatu. suatu saat hidup ini akan berakhir, saat kebohonganmu mulai terungkap, ia akan menemukan kehidupan yang baru. suatu hari ia pasti akan memberitahumu bahwa dia telah cukup merasakan semua luka ini bersamamu.


semua tindakan di dunia ini akan melahirkan sebuah konsekuen. dan kuharap kau berhati-hati dengan apa yang kau punya. aku berkata tentang jalan terbaik namun kau berulang kali mempertahankan alibimu. baiklah, suatu saat kau akan mencabut itu semua dan membenarkan semua kuliahku tentang ini.


***


perempuanku, wajahmu selalu menunduk ke bawah. dan kau juga selalu berkata bahwa ini samasekali tidak melukaimu. setelah itu kau akan berkata "aku sudah cukup merasakannya.dan akhirnya ia memilih perempuan yang lebih berarti baginya." sambil tersenyum masam. semua skenario ini aku sudah hapal bagiannya. tak perlu kau jelaskan. dan lagi-lagi aku hanya bersikap seperti seorang pengecut. berulang kali aku memaki diriku sendiri. mengapa aku tidak dapat meraih tubuh itu ke dalam pelukanku?


setiap kali kau datang padaku untuk menangis, setiap kali itulah aku juga menangis. aku selalu berharap bahwa kau mengerti aku. namun pada realitanya, kau tak akan pernah tahu jika aku hanya terdiam seperti ini. mungkin aku memang ditakdirkan menjadi seorang pengecut, tapi aku tidak begitu percaya pada takdir. yang aku percaya adalah bahwa takdir dapat diubah oleh manusia itu sendiri. semoga itu berlaku untukku saat ini. perasaanku sungguh tercabik saat kau bercerita betapa terlukanya kau atas lelaki bangsat itu. kau tahu? setiap malam aku selalu menyusun untaian kata untuk kujadikan memoar supaya aku tak pernah lupa bahwa aku selalu di sini. di dekatmu. kau tahu? sudah banyak kertas yang kuhabiskan untuk mendeskripsi betapa perasaanku tercampur aduk ketika hidupku mulai dimasuki olehmu. namun aku tak pernah menyesal menjatuhkan hatiku kepada seorang perempuan luar biasa sepertimu. aku benar-benar tak dapat menuliskannya di sini. terlalu indah dan terlalu berharga untuk kubagi dengan yang lain kecuali kamu.


***


malam ini kuakhiri dengan goresan tinta dengan namamu diatas kertas putih ini. aku tidak pernah bosan untuk memandangi namamu. entah kenapa aku tidak bisa membendung perasaan yang amat sangat berlebih. di sana, kau terluka. dan di sini aku juga terluka. bukankah itu impas?
namun setelah kupikir kembali, kurasa aku tak ingin menjadi pengecut selama sisa hidupku.aku memutuskan bahwa aku akan mengatakannya padamu. mengatakan tentang semua perasaan yang begitu ingin diungkapkan. aku tak peduli dengan statusmu yang masih menjadi miliknya atau sudah bukan. yang terpenting aku bisa meluruhkan sebagian hasratku padamu dengan mengatakannya secara lelaki.


pagi itu kulihat kau agak berbeda. kau terlihat redup. aku sudah mempersiapkan kata. seperti biasa, ketika kita berdua berdiskusi di bawah pohon samping kampus. aku mulai memancing perhatianmu agar kau mulai menyadari bahwa aku ada. akulah lelaki yang selalu menyelipkan namamu di setiap doa sebelum menutup mata, dan doa keesokan harinya. berlebihan memang, tapi inilah fakta.


"Hana, dengarkan aku. kupikir ini akan menjadi momen paling memalukan di perjalanan hidupmu. namun aku sungguh tak dapat menahan semua gejolak ini ketika kita sedang bersama. kuharap kau tahu bahwa bagiku, kamu adalah seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. sejak kehidupan kita mulai saling terjalin, aku merasa bahwa kamu memang tidak biasa. cara pikirmu tentang semua ini yang membuatku membuka mata."
perempuan bernama Hana itu menatapku tanpa berkedip. kurasa ia amat sangat terkejut dengan ucapanku yang panjang lebar dan begitu gugup.


"aku ingin kamu tahu, bahwa aku amat sangat mengagumi kamu. sebagai seorang perempuan, jadi kumohon maafkan aku karena telah mengotori persahabatan kita dengan perasaan lain ini. aku berusaha untuk meredam, namun percuma. kau malah semakin bersinar." lanjutku setelah berusaha untuk mengambil napas panjang.


Hana masih tetap menatapku. kupikir ia benar-benar tak mengira aku akan mengatakan ini.


beberapa saat kemudian Hana tersenyum. dan memelukku!


"Terimakasih." ucapnya lembut sambil tetap tak melepaskan pelukannya untukku.


"kau tahu? aku sangat terluka bila kau bercerita tentang betapa sakit lukamu karena bajingan itu. denganku, aku berani bertaruh kau tak akan merasakannya lagi. ini terjadi begitu saja dan aku tak dapat mencegahnya. maafkan aku, Hana."


cinta dapat membuat seseorang berlaku murahan. apakah yang aku lakukan ini murahan, aku tak tahu.


"kau bersedia menerimaku seperti ini?" tanyanya sambil melepas pelukannya. kembali kulihat butiran bening itu mengalilr perlahan.


"ya. jika tidak, untuk apa aku mengatakan semua ini. aku menyayangimu, Hana. aku bersedia menunggu." ucapku mantap.


"tidak, aku telah mengenalmu cukup lama. dan kurasa aku akan mulai menjalani kisah ini denganmu." ia kembali memelukku. betapa indahnya dunia hari ini.


***

dan...
siapa yang menyangka kini ia duduk di pelaminan bersamaku :)


(Oleh Siantita Novaya) silakan klik disini untuk menghubungi Siantita Novaya



Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Surat - Surat"

Cerpen "MUDIK"

0 komentar
"Mudik, yang dulu artinya silaturahmi terhadap keluarga dan handai taulan sekarang artinya juga masih sama, silaturahmi" kata tejon di warung kopi

tejon adalah seorang pemuda yang baru saja mudik dari jakarta, dia kerja sebagai satpam.

"Kamu ketinggalan jaman, kamu sudah buta pikiran kamu." kata gareng menimpali.

Tanpa tedeng aleng-aleng dan terlampau saklek, kata-kata gareng mulai membuat tejon geram. dia merasa terhina, benar-benar terhina.

"Apa kamu bilang? ketinggalan jaman? bukankah kamu yang udik? lihat handphoneku tanpa tombol, lihat dompetku yang tebal, lihat-lihat barang-barang super canggih yang aku punya. Masih kau bilang ketinggalan jaman? Gila "

kondisi warung kopi jadi runyam, mereka berdua kian menjadi pusat perhatian.

Akhirnya tejon pergi begitu saja, meninggalkan kopi yang tumpah setelah ambruk digebrak.

***

"Arus mudik saat ini memang benar-benar hebat. Banyak yang karena mudik akhirnya banyak juga kecelakaan yang banyak menimbulkan ketewasan." Kata pak gareng setelah nonton berita arus mudik di televisi bersama anaknya



"Pak, katanya bapak tadi malam habis bentrok sama pak Tejon. Hanya gara-gara masalah mudik" timpal ibu ani setelah pulang dari membeli sayur diluar

Ibu ani tahu pasti dari acara ibu-ibu yang bergosip, yang kebetulan pemilik warung kopi juga ada disitu.

"Sebenarnya mau bapak tidak sampai seperti itu. Bapak cuma pingin mengutarakan pendapat bapak waktu ngobrol sama dia, tapi karena salah paham malah jadinya begitu buk" kata bapak

"Memangnya gimana pak?" tanya anaknya penasaran

"lhoh, bukankah sekarang makna mudik itu sudah mengalami pergeseran? yang dulunya makna mudik itu adalah pulang dari perantauan untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan masyarakat kampungnya, sekarang malah bukan hanya sekedar silaturahmi, namun pola pikirnya semua sudah ke arah matrealistis. Lihat siap yang peduli ilmu apa yang dibawa dari kota untuk masyarakat? budaya yang seprti apa yang dibawa mereka ke kampung. Konsumerisme ! kedatangan mereka bukan untuk membangun budaya baru yang lebih beradab namun malah sebaliknya."

"Pak, mereka kan juga tidak bermaksud seperti itu." bela anaknya

"Itu juga kesalahan pemerintah, sudah tahu ini fenomena yang besar dan potensial, malah dibiarkan saja. Akhirnya fenomena ini diboncengi oleh para industrial. Ya itu tadi konsumerisme, sekarang makna mudik sudah rusak. Yang ada malah berapa uang yang sudah dibawa, apakah tiap tahun mobilnya ganti, padahal di jakarta sana dia bekerja juga sampai berdarah-darah. Tapi saat mudik, semuanya terlihat palsu dan serba wah. Akhirnya semua orang yang kere di kampung milih untuk pergi ke jakarta."

"Bapak ini, kalau bicara pasti semua kena damprat, pemerintah kena damprat, semua kena damprat, nanti ibu sama anak juga kena damprat." Kata bu ani yang pergi meninggalkan mereka berdua ke dapur.

"Lalu bagaimana seharusnya pak, biar makna mudik tidak rusak?" tanya anaknya menodong

"Anak muda sekarang memangnya suka begitu, tidak mau berpikir, semua diserahkan sama orang tua, mau jadi apa bangsa ini kelak."

"Betul kan, kamu juga kena damprat nak. sebentar lagi ibu yang akan kena damprat"

heuheuheueheu ; anaknya tertawa...

"Ibu ini ! Mudik itu kan potensi besar, seharusnya pemerintah mampu mengambil alih. Mampu menularkan budaya kepada mereka, biar ada perubahan, kalau mudik itu bukan sekedar makna kosong karena diambil alih oleh industri. Bayangkan bila mereka yang mudik katakanlah membawa sesuatu yang baru, ilmu yang baru, budaya membaca, budaya bekerja keras, atau mereka itu meninggalkan buku-buku untuk dijadikan perpustakaan di kampung, menularkan inspirasi baru kepada orang-orang kampung. Atau tiap kali mudik ada macam-macam lomba yang menyenangkan, yang bisa menjadikan hiburan warga biar tidak mencari hiburan di mall."

"Tuh kan, kalau bapak lagi berpendapat, semua bisa kena damprat"

"Ini buat kebaikan kita semua, buat nasib festival agama di masa yang akan datang, jadi semua orang juga harus bertanggung jawab".

Oleh Amin Bagus P
klaten, 21 Agustus 2011
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "MUDIK"

Laki-Laki Sejati adaptasi dari cerpen karya Putu Wijaya

0 komentar
  1. Seorang anak yang melewati masa anak-anak bertanya pada ibunya tentang "Apa itu Laki-laki sejati".
  2. Ibunya bilang, "didunia ini sudah tidak ada laki-laki sejati". Hah, kenapa begitu... Padahal aku ingin pacaran dengannya, menikah dengannya, dan memberikan cucu dengannya untuk ibu.
  3. "Lelaki sejati sudah hilang dari dunia ini setelah bapakmu mati". kata ibunya meneruskan. Lhoh, kalau begitu aku patah hati. Apa sama sekali tidak ada? kemanapun akan aku cari. "Tidak!" Bentak ibunya tegas.
  4. Memangnya laki-laki sejati itu seperti apa? Pintar? kaya? tampan? tahan banting? atletis? ramah? tidak sombong? kharismatik? jenaka? rendah hati? berani dan rela berkorban? "Tidak!" kata ibunya memotong.
  5.  Lalu apa? "seseorang Lelaki sejati itu adalah seseorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pamtas dipikir, membaca yang pantas dibaca, berbuat yang pantas dibuat, dan hidup yang pantas dijadikan kehidupan". jelas ibunya. Aku tidak tau maksud ibu.
  6. Seseorang lelaki sejati adalah seseorang lelaki yang satu kata dengan perbuatan. Bukan laki-laki yang tidak bisa dipegang mulutnya, pembual, aktor kelas tiga. Bukan malah lelaki pinter, kaya, kuat, tampan, tapi tak bisa dipercaya. Tukang kawin, tukang ngibul, ga mau ngurus anak, apalagi nyuci celana dalammu.
  7. Lalu bagaimana bila tidak ada lelaki sejati? aku putus asa! "nak, jangan risau. Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dari belakang meja. Tutup buku itu sekarang. Pergi, hidup udara segar, buka matamu lebar-lebar, pandang bunga-bunga dan langit biru. Dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Hidup tak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku itu. Keluarlah anakku, cari diluar sana. Jangan ngumpet disini".
  8. "Kamu pergi kemana saja, cari lelaki itu, kamu harus pasang omong, kamu harus buka hati lebar-lebar. Kalau dijalan ada lelaki yang mencintaimu. Atau dijalan kamu menemui lelaki yang kamu cintai. Katakan cinta, jangan ragu. Sekarang wanita boleh memilih, tidak perlu menunggu giliran untuk dipilih.CEPAT KELUAR!"
  9. Itu artinya aku tidak menikah dengan lelaki sejati yang aku idam-idamkan bu? "Kamu jangan kebanyakan protes. Kamu kan perempuan... Kalau kamu ingin memiliki lelaki sejati, siapapun dia, darimana asalnya, setiap perempuan anakku, bisa membuat seorang lelaki."
  10. Karena kamu bisa membuat lelaki, siapapun kamu, apapun pekerjaanmu, Karena kamu perempuan anakku. Maka kamu harus mampu membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki sejati. Karena Kamu adalah IBU.
Jangan pernah bilang kalau setiap lelaki itu sama saja. Pembohong, tukang ngibul, munafik, brengsek, setan, bajingan, pengecut, atau apalah. Ya karena memang seperti itu adanya. Tapi Ingat, karena kamu adalah perempuan, kamu bisa buat laki-laki. Kamu yang berhak didik mereka, kamu yang berhak latih mereka, kamu yang telah bentuk mereka. Maka,  seperti apa laki-laki itu jadinya, dia adalah anakmu, Karena kamu perempuan, karena kamu seorang IBU.




Terima kasih telah membaca artikel: Laki-Laki Sejati adaptasi dari cerpen karya Putu Wijaya

Cerpen "Wasiat Terakhir"

0 komentar
* Anak itu pernah bercerita kepadaku. Bahwa dia sering diberi cerita-cerita tentang sebuah dunia yang tentram dan sebuah dunia yang kacau balau. Bercerita tentang surga dan neraka.

Ya disamping itu dia juga beberapa kali bercerita tentang malin kundang, cinderela, aladin, abunawas dan kisah seribu satu malam lainnya.

Aku melihat anak itu menerawang jauh, seolah-olah dia merasakan ayahnya memang sedang ada di depannya. Dia seolah-olah merasa keadaan itu, saat ayahnya membacakan atau menceritakan kisah-kisah besar dan rahasia besar.

* Tapi satu yang benar-benar aku ingat, dari katanya.

Ayahku pernah tanya ke aku.
"Kamu ingin masuk surga atau neraka?"
lalu aku jawab "Aku ingin masuk surga yah..."
"Nak, semua orang pasti ingin masuk surga. bahkan orang jahat sekalipun".

Saya benar-benar penasaran dengan kalimat ayah selanjutnya, saya benar-benar ingin mendengarkan saat terakhir kali saya bersama ayah didunia ini saat itu.
Sebelum ayah meninggal, dan aku memeluknya dengan erat. Menangisinya karena tidak ada lagi orang yang akan menceritakan kisah-kisah hebat itu. Aku benar-benar khawatir akan kesepian, tidak ada lagi laki-laki yang akan bilang 'sayang' secara tulus di dunia ini selain ayahku.

"Nak, bila kamu jadi orang jahat. Jangan pernah meminta surga. Namun bila kamu adalah orang baik, Allah tahu apa yang kamu perbuat. Jadilah orang yang bermanfaat nak".

Itu wasiat terakhirnya.

Oleh Amin Bagus P
Rumah, 14 Mei 2011

Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Wasiat Terakhir"

Cerpen "ASU"

0 komentar
Ada seorang anak kecil yang dirumah hanya diajari soal kebaikan, segala jenis keburukan memang disembunyikan. Apalagi untuk bilang "ASU". Kata itu disimpan rapat-rapat, tidak pernah diajarkan ke anaknya.

Lain halnya dengan keluarga yang satu ini. Bapaknya mengajari anaknya untuk berbicara "ASU". Tentunya berbeda dengan keluarga-keuarga lain.

Apa kalian pernah diajari ayah kalian untuk berbicara "ASU" ?

Yayan memang diajari bapaknya untuk bilang "ASU". Disebuah sore yang penuh senja yang menyenangkan. Diiringi petang yang terlihat semakin pekat, Yayan dan bapaknya sempat ngobrol.

"Naaakk, kamu tiap hari harus bilang ASU sebanyak 1 kali, terserah mau di ucapkan kapan. Yang penting setiap hari 1 kali"
"Memangnya kenapa pak?"
"Sudah, tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja perintah bapak".
"Baik pak".
"Tapi ingat, kamu juga jangan lupa bilang Subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar. Ingat, tiap kali sehabis shalat 33 kali".

pembicaraan ini diakhiri kumandang adzan.

Namanya saja anak kecil kelas 1, yang dia tahu adalah ASU adalah seekor binatang yang suka menggonggong.

***

Sehari sesudahnya, saat Yayan sekolah. Berada di dalam kelas, saat pelajaran agama. Tiba-tiba Yayan bilang "ASU", Ibu guru jelas mendengar, karena Yayan mengucap dengan keras. Mendandak kelas menjadi riuh bingung, karena sebagian teman-temannya kaget juga mendengar apa yang di katakan Yayan. Bu guru itu mendekati Yayan, bertanya kepada Yayan.

"Yayan, kenapa kamu bilang "ASU"?"
"Memangnya kenapa bu?"

Buguru itu dengan sabar menjelaskan

"Kata itu tidak baik diucapkan oleh anak kecil. Memangnya siapa yang mengajari? Apa teman-temanmu?"
"Yang mengajari bapak saya bu"

Ibu guru kebingungan, bergumam tidak mungkin bila bapaknya yang telah mengajarkan. Anaknya diajari untuk bicara kotor. Pasti bapaknya sudah tidak waras atau Yayan sudah bicara ngawur.

"Yayan, pokoknya kamu tidak boleh bilang kata itu lagi, apapun alasannya"

Yayan menjadi bingung. Yang ada di kepalanya adalah perbedaan antara pesan Bapaknya dan pesan gurunya.
Saat itu juga ternyata teman-temannya benar-benar ikut belajar tentang kata "ASU" bahwa kata "ASU" adalah kata yang tidak baik. Tanpa tahu alasannya juga.

Sampai dirumah, Yayan bertanya kepada bapaknya untuk mencari penjelasan soal kebingungannya.

"Pak, saat tadi di kelas saya bilang "ASU" tapi kata bu guru saya tidak boleh bilang kata itu. Kata itu tidak baik, tapi orang dewasa boleh".
"Bukan hanya untuk orang dewasa nak. Orang dewasa pun juga tidak boleh bilang "ASU" untuk menjahati orang lain. Karena kata itu tidak baik, kita sama saja menyamakan orang lain dengan anjing. Apa kamu mau dibilang begitu?"

"Tidak mau pak"
"Bagus..."
"Lalu kenapa bapak kemarin menyuruh saya agar sehari bilang ASU 1 kali"
"Apa kamu masih tetap akan mengatakan kata itu nak?"
"Tidak pak, saya tidak mau orang lain bilang ASU ke saya"
"Bagus, walaupun itu yang menyuruh adalah bapakmu sendiri. Kamu tetap harus bisa mencari mana yang baik dan mana yang buruk"
"Baik pak"

Lalu di hari selanjutnya, Yayan tidak pernah lagi bicara ASU dengan nafsu. Dia banyak belajar dari bapaknya bahwa kata itu harus di ucapkan sesuai dengan kepentingan. Segala jenis nafsu selalu mengajarkan kepada kejahatan.

Namun tanpa disadari teman-temannya yang lain sudah sering bilang ASU karena kesalahan orang lain.

ASU, ASU, ASU. asu, asu, asu. Asuuuuuuuuuuuu!!!


Oleh Amin Bagus Panuntun
Rumah, 12 Mei 2011


Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "ASU"

Cerpen "Kentut"

0 komentar
Usut punya usut ternyata bunyinya duuuttt...

Setelah dengar-dengar kabar dari Ibunya, ternyata Alan ingin kentut sehari 1000 kali. Entah kenapa ya, apa baginya itu hanya lelucon atau memang keseriusan. Tapi setelah selidik punya selidik, Alan memang benar-benar ingin membumikan kentut. Bahkan dia ingin membuat bendera, lagu, bahkan mencari pengikut. Semuanya tentang kentut.

Alan selalu berpikir, apa salahnya kentut. Mau 1000 kali 2000 kali sehari atau bahkan sampai dubur jebol, itu urusan masing-masing. Itu yang menyebabkan satu demi satu orang ingin mengikuti ajarannya. Kentut sebanyak-banyaknya, 1000 kali sehari.

Sebenarnya si banyak orang-orang yang membicarakannya kalau ajarannya itu ajaran orang gila. Tapi alan cuek-cuek saja, dia selalu berpegang teguh kalau kentut juga hak asasi manusia. Bisa dituntut orang yang melanggar hak asasi, itu pendapatnya. Makanya dia senang kalau bisa kentut sebanyak-banyaknya dan tidak peduli ancaman atau gunjingan orang-orang.

Pernah ya, suatu saat. Alan ada di sebuah keramaian dia kentut karena sakit perut. Namanya juga sakit perut, mau gimana lagi kentut adalah maut. Maut karena susah ditahan... Baunya seperti selokan mampet dan bumpet. Jelaslah orang-orang disampingnya memaki-maki karena merasa dirugikan dengan bau yang muncul dari duburnya. Entah, tai-nya keluar juga atau tidak. Ada sedikit ampas yang keluar impas dengan kerasnya suara kentut.

"Heeee!!! anak tak tau malu. Kentutmu itu maut, bisa membunuh kami".
"Maaf, Perut saya sakit"

Mana ada orang yang peduli dengan orang yang sedang sakit. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri yang dirugikan karena penderitaan orang lain. Semua orang barangkali banyak yang begitu, mementingkan diri sendiri. Yaaaa... sebenarnya Alan paham kalau setiap manusia itu punya kepentingan masing-masing, tapi kalau sudah kebangetan. Lebih baik kita kentutin saja.

Rumah, 4 Mei 2011
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Kentut"

Cerpen "Bingung Ya"

0 komentar
(1)

Saya sendiri sebenarnya bingung ya, untuk apa saya melakukan ini semua. Lalu kenapa saya ada diposisi melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Atau sebaliknya, mereka berada di posisi melakukan apa yang saya kerjakan. Ya ini yang sering membuat saya berpikir kalau dalam hidup ini kadang kita nemuin hal-hal absurd.

Pernah juga saya berpikir soal kenapa si saya tidak bisa berbuat seperti yang diperbuat orang lain? Kenapa juga saya berbuat dengan cara saya. Kenapa saya tidak di posisi mereka, dan mereka ada di posisi saya. Ya biar kita semua sama-sama tahu. Dan mengerti isi hati semua orang. Kenapa juga ya, saya harus membicarakan ini semua?

Ya ujung-ujungnya disuruh bersyukur. Tapi apakah benar kalau bersyukur itu ya pasrah. Apa karena memang saya yang bawel, sukanya tanya-tanya yang sebenarnya tidak penting untuk ditanyakan. Bingung juga ya, kalau seperti ini.

O ya, saya ingat. Kalau bersyukur itu masih boleh bertanya. Kalau seharusnya masih bisa lebih baik, kenapa dengan keadaan sekarang kita sudah bersyukur? Atau jangan-jangan kata bersyukur yang kita pahami itu adalah istilah untuk menutupi kemalasan kita? Ya lagi-lagi saya bingung. Nrimo ing pandum lah...

Pernah, saya mendengar ya. Kalau biar tidak bingung makanya harus berpikir. Tapi gimana ya caranya berpikir itu. Ada orang menjawab kalau mau bisa berpikir ya kudu mau sekolah. Ya sudah saya sekolah. E, lha setelah saya sekolah dan bisa berpikir masih saja saya bingung. Kenapa ya, sekolah kok masih membuat saya bingung. Saya ini sekolah biar tidak bingung karena saya bisa berpikir, setelah bisa berpikir saya itu bingung dengan sekolah. Apanya yang salah ya. Otak saya yang sudah tidak waras... Atau memang sekolah malah membuat otak saya menjadi tidak waras. Lho, lha malah saya semakin tambah bingung.

Apa begini saja ya, biar saya tidak bingung saya belajar sendiri. Saya mempelajari yang tidak ada di sekolah. Tapi gimana lagi ya caranya. Malah sekarang kebingungan saya ada kebingungan lagi.Atau begini saja, saya melamun. Siapa tahu nanti saya kemasukan setan, siapa tahu setan malah bisa mengobati semua kebingungan saya daripada sekolah.

***

(2)

Pernah suatu saat bingung menertawaiku. Ya apalagi, katanya si saya ini tidak produktif.

"Hahahahahaha Hwahahahaahaha..."
"Heee, kenapa kau menertawaiku? memangnya ada yang lucu?"
"Iya, sangat lucu"
"Lucu apanya?"
"Lihat dirimu, dari dulu begitu-begitu saja"
"Lhooohh..." Sambil terheran-heran
"Lihat kamu itu, dari dulu sekolah tapi tetap saja begini. Tidak terlihat ada perubahan"
"Maksudmu!" makin kesini omongannya semakin tidak enak, jelas saya tidak terima. Setahu saya, saya sudah mengalami perubahan yang besar.
"Saya tahu, karena saya adalah bingung, saya adalah yang kamu ciptakan. Jadi saya tahu jelas apa yang kau bingungkan, karena saya adalah bingung."
"o, iya"
"Sudahlah, kamu tahu kan sekolah itu tetap membuat kamu bingung, bahkan kamu bingung dengan sekolah. Sekolah seperti tidak menjamin masa depanmu, ya karena sekolah sekarang itu memang dicitakan agar membingungkan. Tapi cobalah, kamu jangan memikirkan apa itu sekolah yang bobrok. Daripada kau mengalami kemandegan. Ya, lebih baik kau segera bergerak, walaupun tidak mempedulikan sekolah. Lha mau gimana lagi, namanya saja sekolah sudah tidak menjamin, mending kamu menjamin kehidupanmu sendiri dengan usahamu sendiri."

saya sungguh sadar, dan saya akan melakukannya.

"Kalau saya nanti sudah tidak bingung bagaimana?"
"Lhooo... itu sebuah kemajuan"
"Tidak, saya tidak mau kalau saya tidak bingung lagi"
"Goblok"
"Saya tidak mau kehilangan teman sepertimu"
"Kok begitu?"
"Ya, kalau saya tidak bingung. Saya tidak akan pernah berbicara lagi denganmu. Kau jadi modar karena saya tidak bingung, saya tidak mau kehilangan calon sahabat sepertimu. Saya ingin kau ada selalu memberiku ceramah biar aku tidak bingung"
"Mana ada bingung berceramah agar kau tidak bingung. itu kan mustahil"
"lhooohh, kau tadi kan sudah berceramah"
"Tenang saja, Jalani saja dulu usaha-usahamu. Ambil manfaat dan beri manfaat yang lebih banyak. Karena aku akan tetap selalu bersamamu"
"BENARKAH?"

"YA" Jawab BINGUNG.

Rumah, 1. 4 Mei 2011
               2. 7 Mei 2011

Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Bingung Ya"

Cerpen "Tetek Titel"

0 komentar
Namanya H. Yusuf Maulana. MM orang-orang pasti akan berdecak kagum melihat titelnya. Minimal orang-orang yang baru mengenalnya akan berpikir masi muda tampan, berwibawa, sudah haji, dan punya gelar megister manajemen. Kurang apa lagi coba, barangkali itu sudah cukup buat menggaet keinginan untuk dijadikan mantu bagi anaknya.

Tapi sayang, "H" itu bukan akronim dari 'Haji' tapi 'Hehehe' belum lagi "MM" bukan akronim dari 'Megister manajemen' namun karena Malam pertama ayahnya bersetubuh dengan istrinya pada waktu Malam Minggu. Itu ulah bapaknya yang kranjingan dan kurang berpendidikan tidak punya pikir panjang. Biar dikata nama anaknya mentereng dan juga bermaksud agar anaknya kelak juga bisa pergi Haji dan jadi Megister Manajemen. Walaupun bapaknya seorang preman pasar lulusan SD saja namun setiap bapak pasti punya cita-cita agar anaknya jauh lebih baik dari bapaknya.

Ulah bapaknya kini juga berimbas pada yusuf, ternyata yusuf jadi orang yang seperti bapaknya cita-citakan sekarang. Sudah pergi Haji dan punya gelar Megister Manajemen beneran. Tapi sayang bapaknya cudah koid di makan usia tidak bisa melihat bahwa anaknya sudah seperti yang dia impi-impikan, walaupun dulu hanya sebatas nama.

Yusuf kini bekerja di perusahaan kelas dunia, bisa dikata gajinya segunung apalagi dia belum kawin. Yusuf sebenarnya sudah punya dambaan hati, gadis cantik molek seksi anak kuliahan semester 7 yang sedang menjalani proses skripsi. Sudah barang tentu yusuf punya ambisi kalau setelah gadis cantik molek seksi lulus kuliah pastilah akan dilamar untuk dijadikan istri.

Tapi kini Yusuf yang sudah jadi orang kaya tiba-tiba saja bilang tidak mau kawin sama gadis itu. Katanya si karena teteknya ada tiga. Pernah suatu saat dia melamun membicarakan hal ini dengan dirinya sendiri.

"Dia memang gadis cantik, mulus putih, seksi dan menggairahkan. Tapi teteknya tiga".

"Goblok, bukankah itu sebuah kelebihan?"

"Kelebihan? maksudnya?"

"Iya kelebihan, tangan kananmu bisa pegang tetek kirinya, tangan kirimu bisa pegang tetek kanannya, sedang mulutmu bisa gerilya di tetek tengahnya."

"Itu bukan kelebihan, tapi berlebihan. Orang mana yang suka dengan orang yang berlebihan?"

"Bukankah itu yang di maui semua laki-laki, bisa bermain-main dengan tetek wanita?"

"Ya memang, tapi kenapa harus ada tiga? tidak normal saja. Dua seperti wanita-wanita lainnya, walaupun tidak secantik, seseksi dan semulus dia. Namun tetek mereka normal, ada dua."

"Bukannya kamu bisa kawini dia lalu bisa oprasi teteknya dengan kekayaanmu yang berlimpah?"

"Bukan sesederhana itu, aku ini Haji, dan Megister manajemen. Tentu aku seorang yang alim dan seseorang yang berpendidikan. Bukan seperti bapakku dulu, yang dengan enaknya agar anaknya namanya mentereng lalu dengan sesukanya memberikan nama kepadaku. Karena aku orang alim sudah pasti aku tidak bermain-main dengan teteknya karena nafsu. Dan tentu karena aku berpendidikan, sudah tentu aku tidak sebodoh itu mengawini gadis yang teteknya tiga."

"Loohh, bukankah yang ada dipikiranmu adalah apa yang ada dipikiranku? Dari mana kau tahu kalau gadis itu teteknya ada tiga? kecuali kalau kamu mengetahuinya tidak dari mengintipnya atau bahkan sudah bermain-main dengan sekujur tubuhnya?"

Karena marah lamunanya pecah. Dia tidak mau berbicara lagi dengan dirinya sendiri. Dia bisa saja melakukan apa yang baik-baik agar dipandang orang dia orang baik. Tapi ternyata diri sendirinya juga yang melucuti dirinya sendiri bahwa kebaikannya adalah kamuflase atas titelnya yang mentereng.

Oleh Amin Bagus panuntun
Rumah, 26 April 2011

                Ini semua bukan berarti tidak sopan karena membicarakan tentang hal-hal yang tidak sopan. Ini semua bukan masalah kesopanan kecuali karena kita sok sopan. Kesopanan dinilai dari hal-hal yang tidak sopan, karena kita melihat hal-hal yang tidak sopan kita bisa menentukan kesopanan. Sekarang waktunya kita selalu berpikir secara positif dan berani menyatakan bahwa diri kita ternyata masih dekat dengan kamuflase-kamuflase hidup yang kita jalani. Hidup kita menjadi sekenario kita sendiri yang mengotak-atik diri sendiri agar yang tidak baik jadi kelihatan baik. Agar yang bobrok jadi kelihatan menawan. Mari sedikit-sedikit kita hentikan itu semua agar semua yang sedikit itu tidak tertimbun menjadi malapetaka di kemudian.
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Tetek Titel"

Cerpen "Mahasiswa di Negara Ironi"

0 komentar
Kawan-kawan semua, apakah kita rela bila rakyat selalu menjadi korban bagi elit-elit politik? Kita semua adalah harapan bagi rakyat untuk menyuarakan rintihan-rintihan mereka. Dari negara kita yang katanya negara yang tanahnya subur. Padi, palawija, rempah-rempah, lombok, dll bisa mudah tumbuh di negara kita namun para petani terlampau miskin. Yang katanya negara kita penghasil Emas, minyak, termasuk yang terbesar di Asia bahkan dunia namun tetap saja masih ada rakyatnya yang tidur di kolong-kolong jembatan. Yang katanya negara kita punya wilayah perairan yang luas, yang banyak sekali hasil yang ada di airnya namun nelayan hanya bisa makan nasi seminggu dua kali. NEGRI KITA SUDAH BOBROK. Pemerintah malah sibuk berkoalisi. IRONI!

Benar, negara kita itu sekarang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi. Bahkan katanya hampir ke tingkat 7%, kemiskinan bisa berkurang banyak. Padahal orang-orang miskin berkurang karena banyak yang MATI tidak bisa makan sebab tidak ada yang bisa untuk membeli makanan. Semua adalah kebohongan.

Kawan-kawan... marilah kita turun ke jalan, kita aksi di perempatan jalan. kita tuntut elit-elit politik yang mereka bilang adalah bisa menterjemahkan kemauan rakyat. Agar mereka juga tidak terlalu sombong lagi sok menjadi pahlawan rakyat. Kita usut tuntas kemunafikan-kemunafikan mereka.
Tenaaanng... Sudah banyak media yang bersiap-siap akan meliput. Suara kita akan didengar oleh para elit-elit politik dan para masyarakat. Kata seorang orator Aksi Demo dari sebuah universitas yang sedang mengajak para mahasiswa agar mau ikut turun ke jalan.

Banyak mahasiswa-mahasiswi yang memperhatikan para simpatisan aksi demo yang sedang berteriak-teriak untuk mengajak mahasiswa lainnya ikud aksi demo.

Di lantai dua ternyata ada beberapa kelompok yang sedang birbisik-bisik. "Dasar goblok, buat apa demo. Panas, capek, belum lagi bentrok dengan polisi, dipukuli. Ngapain juga kita harus ngurus negara, Negara kan sudah ada yang urus. Peduli apa dengan rakyat, penting kita sekarang bisa senang-senang. hahaha". (berharap agar teman-temannya tidak ikud menjadi orang goblok)

Berjalanlah para simpatisan aksi demo keluar dari fakultas berjalan berbondong-bondong dengan kekuatan masa yang bila dilihat hanya seperti lelucon. tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa keseluruhan. Berjalan dengan membawa sepanduk-sepanduk berisi kekecewaan, olok-olok, diiringi nganyian-ngayian lagu penuh semangat dan lain sebagainya. berjalan sampai tempat yang dianggap strategis untuk melancarkan aksi demo.

Disitu dihadanglah para simpatisan dengan polisi-polisi yang garang siap membawa pentungan, tongkat dan sebagainya. mempersiapkan kalau seolah-olah akan terjadi clash fisik. hahahaha... benar-benar lelucon.
dimulailah aksi demo itu dengan lagu indonesia raya dikawal polisi yang diam mendengarkan mahasiswa khusuk menyanyi. dilanjutkan dengan orasi-orasi yang di lancarkan para orator secara bergantian.

Awaaaaaaaasssssssss,...... Api tiba-tiba membesar, mahasiswa-mahasiswi kalang kabut menghindari api yang di bakar, Polisipun kelabakan mengambil air dan alat pemadam kebakaran. pentungan melayang di tubuh-tubuh para simpatisan. kondisi Cheos (kacau balau). Beberapa mahasiswa diculik oleh polisi yang memang dipersiapkan oleh elit-elit politik untuk membuat kondisi bentrok, mereka dipesan agar para mahasiswa diam dan takut untuk tidak menentang. Yaitu dengan melakukan kekerasan kepada mahasiswa.

Mahasiswaaa, ayo kita munduuurrr (karena kondisi dan situasi memang mengharuskan begitu, untuk meminimalkan korban dari mahasiswa)... kita masuk ke kampus!. kata seorang kordum dengan teriakan mengajak. Kita ambil strategi lain, tanpa mempedulikan beberapa teman yang diculik. (Namun intelegen mahasiswa sudah mencatat siapa saja dan berapa orang yang diculik, tentunya untuk data pertanggungjawaban).
Larilah semua masuk kampus, bentrok mahasiswa polisi semakin ganas karena mahasiswa mulai berani melemparkan batu membalas serangan para polisi dan preman-preman bayaran dari dalam kampus.

Mahasiswa lain mulai panik dan mencari perlindungan kedalam kelas. termasuk seseorang yang tadi bilang tentang kebodohan para pendemo. "Benar-benar goblok mereka, anjing. membuat kita terkena imbasnya." dan dengan sumpah serapah yang lain. Namun tiba-tiba ada seorang mahasiswi disampingnya yang mendengar ucapannya, kalimat-kalimatnya. langsung berontak karena kupingnya panas terhadap perlakuan mahasiswa itu.

"Heh, kamu di bayar berapa oleh mereka? sampai-sampai begitu. Kamu masuk kelompok pro atau kontra terhadap tindakan para elit politik? apa kamu abu-abu. atau kamu hanya mementingkan kehidupanmu sendiri?" membalaslah orang itu menyangkal dengan kata-katanya yang semakain pedas. sampai pada akhirnya mahasiswi itu bilang kalau.
"Negara ini milik kita, apa kamu setuju negara ini diurus oleh orang lain? dan kamu tidak menerima apa-apa? semuanya dikorupsi, dijarah oleh asing. bagaimana dengan anak-anakmu kelak. bla bla bla....... Akhirnya mahasiswa itu menciut bahwa dia merasa salah dalam berpikir. bahwa dia tidak lebih dari seorang pengecut, seperti dirinya diinjak-injak. walaupun tadi juga sempat ada perdebatan bahwa dia bertanya soal "rakyat yang mana yang mereka maksud? pemerintah yang mana yang mereka maksud?"
mahasiswi itu menjawab dengan sepengetahuannya, bahwa rakyat hanyalah topeng, dan topeng itu digerakkan oleh aktor intelektual. Pemerintah yang mana, mahasiswi itu sedikit bingung, karena memang dia juga merasa bahwa pemerintah sekarang seolah-olah tidak ada. Yang ada hanya Partai-partai yang ribut mempertahankan kekuasaan.

Sampai pada akhirnya kekacauan itu berakhir dengan agitasi perwakilan antara pihak rektorat, mahasiswa dan polisi.
semua mahasiswa yang sempat diculik dibebaskan, mahasiswa yang luka-luka diobati bahkan dibawa kerumah sakit.

Namun semuanya masih berlanjut, bahwa rejim yang dzolim memang harus disingkirkan, sistem yang banci harus dibuat sistem yang kuat. Mahasiswa semakin banyak yang meminta keadilan!


(Rumah, 06 Maret 2011)
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Mahasiswa di Negara Ironi"

Cerpen "Menggambar"

0 komentar
Seorang guru saat pelajaran seni menyuruh muridnya untuk menggambar. “Anak-anak… Coba kalian gambar gunung dan lalu diwarnai yaaa…”. Semua murid akhirnya mengeluarkan kertas gambar, pensil dan seperangkatnya. Menggambarpun dimulai, murid-murid aktif menggambar. Dan guru itu sibuk memainkan blackbary barunya di depan, di meja guru yang begitu nyaman dengan kursi yang empuk.

Namun ada satu anak yang tidak menggambar, dia malah melamun. Entah apa yang ada di lamunannya. Sampai akhirnya dia tidak menggoreskan pensilnya untuk menggambar gunung. Sampai pada akhirnya waktu yang ditentukan guru itu telah habis, dikumpulkanlah gambar-gambar yang dibuat murid-muridnya sampai pada akhirnya di nilai satu persatu, dinilai dengan nilai yang sama semuanya. Guru itu tidak sadar bila ternyata ada salah satu muridnya yang tidak mengumpulkan gambar gunung yang dia intruksikan. Barangkali karena dia tidak membutuhkan seberapa baik, seberapa berbakat, seberapa terampil murid-muridnya. Sehingga satu murid bisa lolos dari intruksinya yang begitu menguasai.

Bu guru…… Amin kan tidak mengumpulkan gambarannya, ini tidak adil! Bu guru pilih kasih. Kata seorang anak menginginkan keadilan dari gurunya, karena anak itu menganggap bahwa menggambar gunung adalah pekerjaan yang menjenuhkan, sia-sia, dan parahnya lagi dia berpikir kalau intruksi untuk menggambar gunung adalah pekerjaan untuk menghukum seorang anak yang nakal. Guru itu tercengang kaget. Siapa pula yang berani-beraninya tidak menuruti perintahnya! Semua anak akhirnya takut oleh maki-makian gurunya. “Amiiiin, Kamu maju sini. Cepaaaaat!!!”
Amin pun maju dengan wajah tertunduk namun tidak merasa gentar kalau jelas-jelas gurunya akan memarahinya. Anak mana yang tidak takut dengan marahan seorang guru. Barangkali anak yang sudah sakit jiwa yang tidak takut itu. Akhirnya guru itupun memarahi Amin dengan mengandalkan kata-katanya yang pedas dan kalimat-kalimat seolah-olah orang tua amin membutuhkan sebuah gambar gunung yang telah diintruksikan gurunya. Seolah-olah bila tidak menggambar berarti masa depan bangsa ini akan hancur berantakan, seolah-olah bila tidak menggambar adalah sebuah kesalahan besar.

Kenapa kau tidak menggambar anak nakal!!! (guru itu membentak Amin dengan kalap). Guru itu seolah-olah bertanya namun tidak mengijinkan Amin untuk menjelaskan kenapa Amin tidak menggambar. Karena waktu telah disumpal oleh maki-makian guru itu, dia merasa bahwa dia seperti ditantang oleh anak kecil, dia merasa dia tidak dihormati oleh anak kecil. Sampai pada akhirnya waktu tidak memberikan kesempatan pada Amin untuk menjelaskan saat itu. Sampai pada akhirnya guru itu membuat surat panggilan agar orang tuanya mendapat peringatan kalau anaknya adalah anak nakal, anak yang tidak menurut pada perintah, anak tidak tau aturan.

Keesokan harinya panggilan itu tidak dipenuhi oleh orang tua Amin, karena memang orang tuanya pun sudah percaya kepada anaknya. “Dasar keluarga tidak tau aturan! Tidak tau berterima kasih kepada guru! Siapa memangnya dia, Apa dia seorang Pejabat! Sampai-sampai tidak memenuhi panggilan dari sekolah!” Bentak guru itu kalap kepada amin saat menghadap di ruang guru. Dan guru itu seolah menginginkan teman-teman guru lainnya agar membenarkan pernyataannya.

Amin pun tidak merasa gentar sedikit pun. Sampai pada akhirnya ada seorang guru ikut-ikutan untuk bertanya, “kenapa kamu tidak ikut menggambar seperti teman-temanmu, naak…?” Akhirnya Amin pun menjawab. Kenapa saya harus menggambar sebuah gunung? Yang sudah tentu saya sudah tau kalau murid yang menggambar bahwa gunung adalah dua buah kerucut yang berjejer, lalu ada jalan lurus dibawahnya, dan disampingnya ada petak-petak sawah yang padinya seperti huruf V maka bu guru akan menilai dengan nilai paling tinggi? Tentulah semua murid akan menggambar hal itu agar mendapat nilai paling tinggi. Karena setiap ada pelajaran seni bu guru selalu menyuruh murid-murid untuk menggambar gunung. Tidak ada yang lain. Kita sampai hafal. Benar-benar hafal. Toh nilai itu juga tidak akan masuk dalam raport karena bu guru tidak pernah sekalipun peduli dengan pekerjaan kami. Yang bu guru pedulikan hanya bagaimana mengisi agar jam pelajaran dapat berlalu tanpa ada keramaian murid-murid.

Wajah guru itupun memerah, harga dirinya seperti di injak-injak oleh seorang anak-anak. “Dasar brengsek!” Lalu guru itu menampar anak itu. Guru itu tidak tahu kalau ternyata anak itu adalah anak kepala sekolah karena dia tergolong guru baru dalam dua bulan ini. Dia tidak tahu bahwa anak itu adalah anak dari kepala sekolah yang membuat dia takut mendapat cap guru jelek kalau murid-muridnya ramai tak beraturan di dalam kelas saat dia mengajar.
Sampai pada akhirnya panggilannya sebagai guru tidak pernah dia dengar lagi, dan sampai-sampai dia tidak lagi bisa mendapat gaji dari pekerjaannya sebagai guru. Karena guru itu dipecat oleh Negara!

(Seni, baik itu seni tari, sastra, seni rupa, teater adalah sebuah pelatihan jiwa, sebuah hal yang bisa dinikmati sebagai makanan rohani. Menggambar pun bukan sekedar masalah keterampilan atau bakat, tapi masalah bagaimana seseorang bisa membuat sebuah karya yang mampu mengajak penikmatnya, bahwa gambar dimulai dari sebuah kepekaan, dorongan jiwa, kemampuan berpikir, kebebasan, kejernihan hati.)

(Kamar, 20 Februari 2011)
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Menggambar"

Ayah dan Anak

1 komentar
Ayah, kenapa ayah dulu tidak memberitahuku bahwa hidup sebagai seorang pemuda itu berat, ribet dan ngebosenin. Berarti bu guru SMA dulu bohong! Katanya Ayah dan Ibu itu adalah guru tanpa tanda jasa. Bukan malah bu guru yang guru tanpa tanda jasa? Karena bu guru mendapat gaji dari pemerintah. Apa karena Ayah tidak mendapatkan gaji dari pemerintah seperti bu guru dalam mengajari anak lalu ayah bisa seenaknya tidak mengajariku segala hal?
"Memangnya kamu kenapa nak? Masamu sekarang dengan masa Ayah dulu sudah jauh berbeda. Masa ayah tidak sebebas masa sekarang."
Tapi bukan berarti ayah hanya mengajariku cara sholat kan?
"Bentar-bentar, memangnya kamu kenapa nak?"
Aku sebagai pemuda harus berhadapan dengan fenomena pacaran, pendidikan yang tidak jelas, dan biaya hidup yang berat. Belum lagi cita-citaku agar dapat terwujud semakin tipis kalau kondisinya seperti ini.
Masa aku tidak mempunyai pacar saja dibilang kurang gaul ama temen-temenku, dibilang manusia klasik lah, kuno lah. Kenapa kita harus pacaran ya yah? kalau Ilmu saja kita tidak becus? Kenapa harus ada pacaran dan Ayah tidak memberikan pengertian kepadaku sebelumnya? seperti memberitahuku cara mengaji yang benar!
"Sabar nak, Sabar."
Lalu kenapa sekolahku banyak sekali mata pelajaran-mata pelajaran yang tidak dibutuhkan untuk meraih cita-citaku?
Kalau ujung-ujungnya hanya jadi buruh kenapa aku harus sekolah tinggi-tinggi? Meraih cita-cita semakin berat ayaaahhh....

"Nak, Cukuplah aku mengajarimu apa yang sudah aku ajarkan kepadamu."
Apa! Ayah bilang cukup? padahal aku dibuat hampir gila oleh keadaan ini!
"Nak, Ayah mengajarimu sholat dan mengaji itu sudah cukup untuk memberimu pengertian dalam menjalani hidupmu."
(anak itu bingung)
"Bila kamu tahu, sholat dan mengaji adalah simbol bahwa kita itu beragama. Bila kamu tadi bilang bahwa bingung dengan kenapa pacaran itu dikatakan benar. Berarti kamu belum mengerti tentang mengapa kita beragama. Kalau di agama kita mengajari kalau pacaran itu dekat dengan maksiat dan harus dihindari. Maka hindarilah, kecuali kalau kamu bisa tidak berbuat maksiat. Dalam agama, Kebenaran adalah kebenaran, bukan karena kebenaran itu timbul karena banyak orang mengerjakannya. Bukankah itu sebuah pengertian, nak?"

Lalu untuk masalah-masalahku yang lain?
"Pendidikan itu seperti sholat berjama'ah, disiplin. dalam hal berpikir, belajar atau bertindak. Dan tidak membeda-bedakan siapa orang yang mempunyai ilmu. Mau dia orang baik, kaya atau miskin. Dia bisa dijadikan sumber ilmu, sumber hikmah bagi kehidupan kita."

(Anak itu mulai berpikir)

"Nak, aku memberikan kebebasan kepadamu untuk memilih jalan hidupmu. Aku hanya memberikan mengenalkanmu petunjuk yaitu agama, dan kamu harus menjalani hidupmu sendiri untuk mencari pengertian-pengertiannya. Dan Itu, sebab kenapa aku tidak menjelaskan semuanya, aku tidak bisa mendektemu sebagai pelaku dari mimpi-mimpiku. Karena aku tahu kau punya mimpi sendiri nak."

(Rumah, 14 Januari 2011) Sore hari


Terima kasih telah membaca artikel: Ayah dan Anak

Keadilan Kasih Sayang Hanya Ada di Dalam Hati

1 komentar
Sial - sial - sial. seolah olah ini sebagai hari kesialanku. Tapi tiba-tiba ibu bilang "Tidak ada hari sial, nak". Ibu tidak tahu soal masalahku. Ini masalah begitu ruwet, di waktu ibu masih muda mungkin tidak pernah mengalami.
"Memang masalah apa?"
Aku tidak bisa bercerita, bu..

Aku lalu naik ke loteng, berpikir dalam-dalam. Barangkali aku akan jadi orang paling jahat se-dunia. Aku telah mengecewakan wanita yang aku sayangi. Entahlah, sayang sebagai sahabat atau wanita yang ingin aku pacari, aku masih bingung.
Apakah aku salah merelakannya untuk orang lain? Dia lebih dibutuhkan bagi teman-temannya. Karena bagiku dia seperti virus yang berterbangan seperti elektron neutron yang ada di semua unsur kehidupan. Dia selalu membawa berita yang menyenangkan. Siapa yang tidak kenal dia pasti dia adalah rajanya orang yang menutup diri. Karena dia selalu ada dimana-mana, memberikan kesejukan bagi orang-orang disekitarnya. Bahkan kepada guru-gurunya yang selalu membicarakan namanya karena tingkahnya yang sangat menyenangkan.
Aku takut, bila keputusanku merubah semua warna warni yang telah dia bangun. karena aku tahu, aku bukan pekerja seni yang bisa seenaknya merubah lukisan elok yang penuh warna kreasi besutan orang jiwa abadi seperti dia.

Tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan tubuhku sendiri. Aku berpikir pembuat bayangan ini adalah pertanda bila bulan muncul. Aku menengok ke arah timur. Benar, bulan indah sekali. Rasanya ada semacam kegembiraan kalau aku sedang ditemaninya. Bulan itu sangat teduh menyehatkan mata hati, elok membayangkan bila aku bisa duduk bersamanya dan bercerita tentang semua kekonyolan kita berdua sebelumnya. Aku memandanginya penuh ketakjuban. Berpikir bahwa aku akan menunjukkan sebuah keputusan yang kedua. Karena keputusan yang pertama adalah aku mengkebiri rasa yang aku miliki kepadanya karena aku hanya tidak mau mengubah hidupnya hanya karena aku memacarinya.

Apa aku salah bila aku meminta pendapatnya sebagai sahabat soal keputusanku yang pertama. Sebuah drama yang aku ketahui begitu menyesakkan batin, bahwa aku menipu kalau aku mencintai seseorang.

Ternyata drama semakin mencekam, aku bagai orang bodoh yang tidak bisa mengatur hidupku. Aku diatur oleh keadaan yang sebenarnya akan menimbulkan sebuah bencana yang pelik, antara aku, dia dan seseorang.

Bulan itu cukub membantuku dalam menguraikan masalah-masalah ini. Cahayanya seperti telah menerangi jalan berpikirku. Bahwa aku harus mengambil keputusan yang kedua, aku harus meneruskan rasa sayangku sebagai sebuah bentuk ucapan yang akan menjadikan aku sebagai seorang pekerja seni yang akan mewarnai sebuah gambar hidup yang sudah cantik bewarna.

Aku paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis.

(Tiba-tiba Ibu memanggil)
"naaakk mau Isya', siap-siap untuk adzan."

Aku lalu turun dari loteng, melenguh panjang tanda aku harus menenangkan pikiranku sejenak.
Aku ambil air wudlu. Lalu pergi untuk adzan. Saat aku menyalakan Microfon tanda siap untuk mengumandangkan adzan, Aku mengumandangkan adzan, namun tiba-tiba pikiran-pikiran itu muncul lagi. Itu membuat adzanku kacau balau. Ya, begitu kacau balau. Aku harus mengulanginya dari awal, itu tandanya aku salah dalam adzan.

Dalam sholat pun aku tetap tidak bisa khusuk, pertama karena ketololanku salah dalam adzan. Dan aku memikirkan dia.

Sampai dirumah, ibuku bertanya. "nak, tidak bisanya kamu seperti ini. Apa kamu sedang jatuh cinta?"
Iya bu, jatuh cinta yang pelik. Aku menceritakannya kepada Ibuku kembali seperti segala yang telah aku pikirkan di loteng tadi.
Saat semua cerita telah usai. Ibu hanya bisa bilang "Keadailan kasih sayang hanya ada di dalam hati".

Setelah itu keputusanku yang ke tiga berarti, Aku tidak memilih mereka berdua. Artinya, aku lebih baik menyakiti keduanya daripada hanya seseorang saja yang terluka.


( Rumah, 7 Januari 2011)

Saya dedikasikan untuk tanggal 8 Januari 2011. Minimal ini adalah hal filosofis yang amat sangat membekas dalam hidup. Aku sekarang telah menjadi pemuda baru yang bisa berpikir terhadap apa yang dulu pernah terjadi. Ini adalah kesalahanku. Maaf segala yang pernah terjadi. Maaf terhadap kesalahan bodoh yang saya lakukan. Saya akan menghukum diri dengan mencari pengertian-pengertian hidup yang lebih out of the box. Semoga harimu menyenangkan.
Terima kasih telah membaca artikel: Keadilan Kasih Sayang Hanya Ada di Dalam Hati

POHON

0 komentar
Tuhan, aku tidak mau lagi jadi pohon. Aku ingin menjadi malaikat saja, kau ciptakan dari cahaya. Pohon itu semakin marah di tengah hutan yang dulunya amat banyak temannya, pohon satu dengan pohon lainnya saling bercengkrama memadu keharmonisan. Lalu dalam kekesalannya terhadap tuhan, dalam sunyi tanpa ada suara, tiba-tiba muncul suara lembut menyapa pohon yang sedang dirundung malang itu. Sejujurnya Suara itu membuat pohon itu sedikit panik. Hei siapa kamu! Siapa Kamu! belum ada jawaban, dan dia ulang kembali. Siapa Kamu! Apa kamu Tuhan?
Tetap tanpa jawaban yang membuat pohon itu semakin panik. Maafkan aku Tuhan bila aku meradang terhadapmu.
Setelah sekian lama suara itu muncul lagi. "Pohon, Aku bukan Tuhan. Aku adalah jiwamu". haaaaaaaa, Jiwaku? "Ya, aku adalah fitroh Tuhan. Kenapa kamu meradang penuh amarah dan ingin menjadi malaikat?"
Aku muak, Teman-temanku semua mati tak bersisa. Laknat itu yang telah membunuhku secara sadis. Lama-lama matilah juga aku. Aku tahu, aku tidak bisa melawan, aku tahu aku hidup untuk dimanfaatkannya. Tapi mereka itu laknat, dan aku tidak suka! lalu suaa itu muncul lagi "Seperti apa masalahmu? Laknat tempatnya di neraka!"
Aku merah benar benar marah, aku tahu ini semua dari burung yang biasa hinggap dan membuat rumah penuh keteduhan diranting-rantingku. Suatu hari dia bercerita tentang semua yang dia lihat di kota. Dia bilang kalau aku telah dimanfaatkan oleh laknat itu untuk memenuhi nafsunya. ya, nafsunya. mereka tidak sadar kalau laknat-laknat itu telah membunuhku dengan sadis sesadis-sadisnya.Burung itu yang telah memberi tahuku, dan sekarang tidak ada yang akan memberitahuku lagi. Burung yang pandai berkicau itu kini telah pergi memilih tempat lain, dan aku yakin setelah mendengar ceritanya. Dia pasti juga akan pindah ke ranting-ranting lain karena pembunuhan laknat itu!
Suara, Aku ingin menjadi malaikat yang bisa mencatat amal baik dan buruknya.
"Bukannya kamu hidup untuk mereka? kenapa harus disesali? dan apa yang kamu lakukan bila menjadi malaikat?"
Memang aku hidup untuk mereka! tapi laknat tetaplah laknat, orang bodoh orang bebal tidak tahu aturan! kata burung itu, sewaktu dia terbang dia pernah menabrak dinding karena ada tisu yang dilemparkan oleh laknat itu sembarangan dan menimpa kepalanya dan menutupi penglihatannya. Burung itu geram dengan laknat itu. dia meccari dan mencari siapa laknat itu! Setelah ketemu laknat bodoh itu, dia selalu membuntutinya.Ternyata dia seorang wanita muda. Setiap hari membawa tissu dalam tasnya waktu pergi sekolah. Dia terlalu sering menggunakan tisu itu untuk hal yang tidak perlu. Setelah itu melemparkan saja sembarangan. Mengotori tempat yang sebelumnya bersih dan indah dipandang mata. Cukuplah burung itu menjadi saksi kalau mereka itu laknat!
Suara itu memecah keheningan. "Lalu apa hubungannya kau dengan tisu?"
Apa kau tidak tahu? Manusia telah menggunakan apa yang aku punya untuk membuat tissu? seharusnya mereka tidak menyia-nyiakanku begitu saja! aku perlu hidup lebih lama lagi! karena mereka terlalu boros menggunakan tisu maka cepat matilah aku!
Aku ingin menjadi malaikat! melihat dan mencatat semua perilaku manusia. Yang laknat aku catat laknat, yang baik aku catat baik. Tidak ada tawar menawar lagi. Dan malaikat tidak bisa di sogok dengan apapun, walaupun uang beratus-ratus milyar. Biarlah laknat itu kelak tidak masuk surga yang dia gembor-gemborkan kepada orang-orang kalau dia orang baik!
Aku ingin mereka tidak membunuhku!
"Baiklah, protesmu pasti sudah di dengar oleh Tuhan, maka tuhan akan bersikap agar laknat-laknat itu sadar, agar mereka mengerti bahwa mereka telah salah".


(Lalu, karena banyak pohon di bumi yang semakin sedikit. Banjir-banjir besar ada di mana-mana).


Terima kasih telah membaca artikel: POHON

Cerpen "SETAN"

0 komentar
He, kamu itu sebenarnya sudah mati atau belum? kok bisa muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba?

“Ya, aku sudah mati”. Berarti kamu seorang setan? “ya, aku setan. Tapi aku bukan orang, setan bukan lagi seorang, setan tetap saja setan, tidak punya kebebasan untuk jadi orang baik atau jadi pecundang. Apa kamu takut dengan aku?”

Aku tidak takut, kenapa kau mati?

“Aku mati karena dibunuh, aku pingin curhat sama kamu, apa boleh?”

Boleh.

“Kasian istriku, dia sekarang harus menghidupi dirinya sendiri. Untung dulu kita belum dikaruniai anak. Bila sudah, matiah dia. Harus menghidupi anakku sendirian. Padahal di kita berada di tempat yang kejam seperti ini. Yang membuat orang baik menjadi orang jahat. Aku dulu orang kaya, namun kekayaanku aku dapat dari mencuri uang orang banyak. Aku seorang penguasa bagian urusan duit. Seenaknya saja aku bisa ganti-ganti angka dan main serong san-sini agar uang itu mengucur keperutku. Tapi sekarang semua itu malah menjadi laknat. Aku di penjarakan oleh orang baik. Dia berbicara tentang kebenaran, tanpa pikikir panjang walaupun aku atasannya. Yang bisa saja memecat dia setiap saat. Lalu sewaktu aku dipenjara, aku begitu dendam dengan orang bangsat itu, dia mengambil semua kesenanganku di dunia. Kalau kau tau dia itu sebenarnya hanya seorang cleaning service yang tidak sengaja melihat dokumen tentang kejahatanku. Dia telah merebut kebahagiaan istriku. Aku bunuh saja dia dengan membayar pembunuh bayaran dengan uang sisa nyolongku yang sudah terpakai untuk ganti rugi. Tapi sekarang aku menyesal dengan apa yang aku lakukan, akhirnya juga nasibku sama seperti dia, sama-sama mati. Aku membusuk di penjara.”

Apa kita bisa kenalan?

“Bisa, siapa namamu?”

Namaku didik. Namamu?

“Namaku SETAN”.

Namamu setan? Apa kau tidak punya nama yang lebih baik? Namamu di dunia siapa?

“Setan”.

Dasar setan, dimana-mana kelakuanmu seperti setan.

“Nama ini pemberian malaikat kubur, aku tidak bisa mengubah namaku. Karena aku dari dulu, dari masih menjadi manusia, sikapku sudah seperti setan. Makanya bukan sebuah bencana sekarang namaku juga setan”.

Setan, bagaimana rasanya mati? Apakah sakit? Ak takut dengan kematian.

“Rasa mati amat sangat sakit, sebelum mati aku selalu di kejar-kejar rasa menyesal. Aku di maki-maki banyak orang, istriku juga sering menangis karena mendapat beban berat serta dikucilkan, perasaanku seprti tercabik-cabik tidak karuan. Seperti perasaan dendam yang tidak tersalurkan. Sakit seluruh tubuh, tersiksa, dan begitu menderita. Sampai tidak enak untuk makan, perut kosong dan lama-lama membusuk”.

Kenapa kau tidak seperti para koruptor yang hidup enak di penjara seperti yang dikabarkan di media-media?

“Di negriku, duitku habis untuk membayar ganti rugi kerugian Rakyat.”

Memangnya dimana negaramu, apakah kau tidak tinggal di Indonesia?

“iya, aku tidak tinggal di Indonesia. Aku tingal di negri yang punya moral tinggi, tidak seperti di Indonesia. Dulu aku sering dengar kabar dari internet kalau Indonesia itu Negara bobrok, penuh dengan orang-orang yang menipu diri seperti aku ini.”

Setan, apa kamu bertemu dengan orang yang kamu bunuh itu di dunia setan sana?

“Aku bertemu, itu juga yang aku sesali. Hidup dia di duniaku sangat enak, dia dijadikan malaikat karena kebaikannya. Dia biasa tersenyum renyah dan bahagia, karena banyak sekali yang mendoakannya. Dan karena memang dia orang baik. Bukan koruptor seperti aku ini waktu di dunia. Tidak seperti aku, harus bekerja keras hidup di jiwa manusia, untuk mengajak mereka menjadi setan, agar mereka bersikap seperti setan. Aku tidak bisa tersenyum seperti dia, yang bisa aku lakukan hanya tertawa licik. Sungguh tidak mengenakkan. Aku tidak bisa hidup merdeka di sini, tidak seperti dia. Walaupun dulu dia bawahanku yang kapan saja bisa aku pecat.”

Menakutkan sekali kematian itu. Sepertia apa yang aku takutkan. Aku tidak mau menjadi setan seperti kamu.

“kamu jangan takut dengan kematian. Kematian itu adalah kemerdekaan. Ada sisi baik dari kematian, asalkan kamu mau menjadi orang baik seperti dia. Dia selalu berbicara tentang kebenaran, mempunyai moral yang baik, selalu tunduk dengan Tuhannya, selalu mengasihi apa yang dia temui, selalu mencari ilmu walaupun dia hanya seorang cleaning service (ah peduli setan dengan status cleaning service), dan menggunakannya untuk kebaikan, selalu. Dan dia selalu menasehati dalam kebaikan, selalu bersedekah, ingat, bersedekah, pokoknya segala kebaikan ada dalam dirinya. Namun boleh kamu takut bila kamu menjadi setan dunia, koruptor seperti aku, culas merugikan orang lain, haram, terkutuk, bangsat, matipun tersiksa. Mendapatkan sisi buruk dari kematian karena pilihanku sendiri”.

(Kampus solo, 28 Desember 2010. Saat-saat berantakan)
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "SETAN"

Cerpen "Sepakbolaisme" #INDONESyalala

0 komentar
Boi enak benar kau lihatnya, menang mana nanti? Oiya boi, sudah beli kostumnya? Pusing aku boi, anakku minta dibelikan, mana nyarinya susah. Setelah ketemu aku juga ikut beli walau duit dapet dari utang. Ah, kau boi. kenapa belum beli, cacat nasionalisme kau. Boi, Cantik juga tu yang bawakan berita. Mau aku kalau aku jadi bini keduaku. Wah boi, serius kau liat berita semua canel tentang bola semua boi. Ikut lihat aku boi, kasih tempat aku.

Boi, ayo ikut do’a boi. Masa kita kalah sama santri itu, mereka saja khusuk mendoakan dengan istigosah kok. Kita harus mengadakan do’a bareng nanti di masjid setelah sholat, biarlah aku nanti datang jama’ah dan mengajak agar orang-orang datang jama’ah juga. Masjid biar jadi ramai ntar, Tuhan biar juga senang karna banyak yang datang.

Ah, kau boi, dari tadi diam saja. Jawab omonganku niii, sampai berbusa saja ni mulut.  “lihat ni berita, menarik. Kau punya duit mau kau buat untuk beli tiket ga? Itu kita liat di sana, pasti menarik. Aku ingat itu saat dulu nonton di stadion, walaupun lagunya cucak rowo tapi seperti nyanyi Indonesia raya setelah baru saja menang perang dengan penjajah, begitu khidmat, penuh patriotisme”. Hahahaha, bener kau boi. Aku juga ingat itu, tapi kalau beli tiket saja susahnya minta ampun dan sering ricuh gini mending duitku aku belikan tivi boi, atau buat sewa layar tancep. Itu pun aku bisa sesak napas desakan begitu, oksigen saja sudah terkontaminasi mobil-mobil macet di jalan begitu, sekarang oksigen local bisa bingung mau masuk hidung siapa, jangan-jangan oksigen ga suka dengan orang macam aku, ga punya duit buat makan bini ama anak. Belum lagi aku pingsan di situ, di injak-injak trus mati. Hahahaha, bayangin saja aku ga mampu.

“Ini, mau dikasih rumah semua pemainnya.  Andai kita jadi pemain, uang melimpah ruah, rumah bisa aku jual buat pulang kampung. Sayang aku ga jadi pemain, nendang bola ke depan saja arahnya jadi kebelakang. Ah, ngawur. Si bakri hebat juga mau beri semua pemain duit. Hahahah, padahal yang ada di lapindo sana masih pada ngungsi melawan penderitaan, macam jadi orang bangkrut saja, ga punya rumah lagi, kompor, kulkas, tivi buat liat besok Indonesia main di final. Semua disita sama lumpur yang amat rakus seperti politisi-politisi yang mengaku-ngaku pahlawan kemenangan akhir-akhir ini. Bak muka cabul saja orang-orang itu seperti sedang berada di kandang perawan. Semua ingin di miliki dan dicicipi”. Hahahahaha… bahasa kau boi, kayak anggota dewan yang terhormat saja, yang dibagi-bagi kupon gratis nonton orang gugup karena mendapat pengharapan yang terlampau besar.

Boi, enak juga ya jadi orang yang punya nomor 17 itu, yang namanya seperti nama tetangga kita, mbah dim. Lihat boi, cewe-cewe pada nge’fans, dari anak muda yang cantik-cantik sampai yang udah uzur.  Bini ku juga ngefans minta ampun kalau lihat dia, kalau ada dia nongol di tivi ni, lupa sama aku dan lupa nyusuin anak. Tuing-tuing ni kepala jadinya. “hahahaha, nampaknya kita juga harus jadi idola juga, ga jelek-jelek amat ni muka. Tapi jadi apa ya, gimana kalau jadi orang yang bisa menjebloskan para koruptor saja, biar ga bangkrut ni Negara. Pasti muka kita bakal di pajang di tivi dan Koran-koran, atau bahkan di acara gossip. Mantab kan, kalau itu benar terjadi. Tapi sayang kau Cuma kuli bangunan, dan aku anak SMA yang sering nunggak bayar SPP. Kalau kau meninggalkan kerja sehari saja sehari juga ga dapat ngisi perut. Bisa makan angin nanti. Ga seperti dokter boyke yang kata infotement mau pergi ke Malaysia buat nonton final, punya duit banyak dia, bisa beli aftur pesawat buat senang-senang”.

Eh, tapi gimana ya nasib pasiennya? Padahal banyak pasien yang pada pingin besarin kelamin dan konsultasi gaya terbaru buat acara puas-puasan. Jadi kepingin ntar malem sama bini, kita mesra-mesraan lagi.

“Enak kau, udah punya bini. Aku ni masih SMA, mana bisa kepakai ni tatat”. Omongan kau boi, bilang tatat kepakai. Hahahahaha, sabar boi. Tunggu umur, jangan kau sikat gadis-gadis duluan sebelum kawin.

Boi, Katanya bener apa yang suporter Malaysia pada curang-curang minta ampun, masuk bawa senjata lessor.

“laser”

Lessor!

“laser”.

Lesor! Ah, apalah namanya. Kasian yang pada main, konsentrasinya terganggu. Bangsat memang mereka, sudah sering menjarah pulau kita, ngaku-ngaku inilah-itu lah, siksa TKW kita, ah mual aku dengarnya. Tapi kenapa mereka culas ya boi, apa kita yang gampang di gobloki sama mereka? Tak tau aku. Ah Boi, sekolahlah kau yang pandai, biar besok jadi pemimpin yang hebat, biar besok Negara ini makmur adil sejahtera, semua kebutuhan murah-murah dan biar jadi bangsa yang dihormati bangsa lain serta biar punya moral yang baik bukan moral tai kucing, jangan ada lagi penjarahan dan tipu-menipu antar bangsa. Jadi bangsa yang hebat lah pokoknya, ga ada yang berani menjajah kita secara fisik dan non fisik. Apalagi dijajah oleh orang bangsa sendiri. Bajingan tengik mereka itu boi.

Moga saja boi, Indonesia bisa menang, dan nasionalisme tidak jadi salah kaprah. Tidak lagi ada penjarahan tiket, maki-makian, bentrok. Tidak ada lagi fanatisme dan ekspektasi yang berlebihan, agama dibuat menjadi kerdil dan tidak bernilai lagi. Dan tidak ada lagi yang namanya politik tai kucing.

“hebat juga kau ngomong, ga ngerti aku apa yang kau ucap. Yang jelas jangan sampai yang kita lakukan sia-sia, menang kalah jadi sama saja, yang didapat hanya abu. Karena banyak ulah-ulah yang tidak rasional dan biadab. Besok aku dukung Indonesia sepenuhnya, biarlah aku disini sikap nasionalismeku aku tunjukkan dengan mendukungnya dan berbangga hati dengan semangat garuda Indonesia. Dan dengan belajar giat, bekerja keras, dan berdo’a sungguh. Untuk Indonesia yang lebih baik”.

Nasionalisme = Keluargaisme, sepakbolaisme, hukumisme, politikisme, pendidikanisme.

(Rumah, 26 Desember 2010)
Terima kasih telah membaca artikel: Cerpen "Sepakbolaisme" #INDONESyalala

Ibu Seperti Bunga Mawar

0 komentar
Keluarga selalu ada menjaga manusia-manusia yang ada di dalamnya. Seorang anak sedang berpikir tentang dirinya sendiri, tentang pilihan yang ingin dia pilih. Lihat saja, aku azizah sedang gamang menentukan sebuah warna pensil untuk mewarnai mawar yang ada di buku. Azizah teriak, "Ayaaaaaahh,, bunga mawar itu warnanya apa?". Ayahnya terlalu sibuk membaca di teras depan. dia teriak lagi, "Ayaaaaaaahh, ayah dimana?". Karena kesal anak kecil yang giginya banyak yang hilang karena keseringan makan coklat dan begitu lucu saat dia nyengir itu berdiri dan mencari ayahnya, Ayah dimana? Azizah mau tanya sama ayah. akhirnya dia pergi ke teras yang sebelumnya dia pergi ke kamar ayahnya ternyata tidak ada.
Setelah menghadap ayah, Azizah menanyakan lagi soal pilihan yang tadi membuatnya bingung. "Ayah, bunga mawar itu warnanya apa?". Ayahnya tetap saja sibuk membaca koran yang sudah beberapa hari dibeli namun belum sempat dibaca. Sebenarnya ayah masih tidak sadar dengan pertanyaan Azizah, Ayah hanya menjawab "warna putih". Azizah kegirangan, dan mengingat-ingat bahwa bunga mmawar itu warnanya putih.
Dia langsung berlari ke meja belajarnya meneruskan pekerjaannya mewarnai yang sempat tertunda karena ketidak tahuannya. Dengan wajah gembira dia mencari pensil warna putih, dideretan paling samping dia menemukannya lalu mengambilnya dan siap-siap untuk menggoreskannya ke gambar.
Saat digoreskan, Azizah merasa kecewa. Karena kertas warna putih dengan pensil warna putih tidak akan membuat bunga mawar itu bewarna seperti yang dia bayangkan.

Lalu dia berpikir kalau, ah, aku belum menggunakan warna hitam dari tadi. Akan ku coba warna hitam saja. Dia pun menumpuk warna putih dengan warna hitam pekat bunga mawar itu. Dia terlihat murung, ternyata warna pilihannya tidak begitu menarik untuk dilihat. Dia juga tidak mau bertanya lagi soal warna kepada ayah, karena dia yakin, ayah pasti akan tertawa kalau mawar yang tadi dibilang putih tiba-tiba diwarnai hitam olehnya.

Tahu-tahu pintu kamarnya terbuka, ternyata Ibunya yang membuka pintu. Azizah langsung bertanya. Ibu mawar itu warnanya apa? kok gambarku tidak menarik?

Ibunya dengan senyum yang damai lalu bilang "mana dhek gambarmu?", Ini bu...
Ibunya tanpa bilang apa-apa lalu digandenglah tangan Azizah pergi keluar rumah. Wajah Azizah dengan kebingungannya yang membuat semakin menggemaskan lalu bertanya. Ibu, kita mau kemana? Ayo ke rumah Pak nasir, Pak nasir ustadz itu bu?, Ibunya menjawab, "Iya".
Sambil berjalan digandeng ibunya Azizah bernyanyi "Kasih ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai kan surya yang menyinari dunia". Ibunya tersenyum dan dalam batinnya berharap esok dia akan jadi orang yang berguna.

Setelah berjalan cukup lama kerumah ustadz nasir. Azizah, lihat itu. Itu namanya bunga mawar. Azizah langsung protes, Kok warnanya merah bu? kata ayah bunga mawar itu warnanya putih. Ibu lalu memberikan pengertian kalau selain merah bunga mawar ada yang warnanya putih. Azizah nyengir, tetap saja tampak lucu.
Ibu ayo kita lihat dari dekat. Saat berada di dekatnya Azizah benar-benar memperhatikan bunga itu, lalu dia melihat wajah Ibunya dengan tersenyum tanda dia berterima kasih kepada ibunya yang telah menunjukkan bunga mawar yang indah ini. Ibunya lalu tersenyum...

Istri ustadz nasir pun keluar rumah membuka pintu rumah, entah berniat untuk apa, barangkali memang sengaja mau menyiram bunga-bunga mawarnya di pekarangan samping rumah. Ibu Azizah lalu menyapa dan berbincang-bincang dengan istri ustadz nasir, meninggalkan Azizah sendirian melihat mawar itu.

Seperti disihir oleh mantra mawar itu. Tiba-tiba saja tangan Azizah menyentuh batang mawar itu, tanda ingin memiliki. Azizah sepontan langsung menjerit kesakitan dan mematahkan tangkai mawar itu karena jarinya tertusuk duri. Ibunya dan istri ustadz nasir langsung menghampiri Azizah dan melihat mawar itu. Azizah nakal, kenapa mawar itu kamu rusak? Itu milik Ibu nasir. Ibunya yang mengerti kalau mawar itu kesayangan Ibu nasir langsung meminta maaf atas ulah anaknya. Azizah merasa bersalah dan juga ikud minta maaf kepada Ibu nasir. "Maaf ibu, Azizah tidak sengaja" dengan wajah memelas tetap saja menggemaskan Ibu nasir lalu memafkannya.

Diajaklah Azizah pulang oleh ibunya, dan ibunya hanya diam jengkel kepada azizah, karena mengetahui kalau bu nasir pasti kecewa mawar kesayangannya dirusak oleh anaknya. Dan Azizah pun dalam perjalanan pulang dengan digandeng ibunya menundukkan kepala tanda dia menyesal. Dalam batin dia menyesal, kenapa tadi dia sangat ingin memiliki mawar itu. Tapi memang, mawar itu benar-benar indah.

Sampai dirumah, dengan kasih sayang Azizah ditanya oleh ibunya, kenapa Azizah tadi mematahkan tangkai mawar kesayangan ibu nasir, dengan sedikit ketakutan Azizah menjawab kalau dia tadi ingin memilikinya dan  ingin mencabut mawar itu untuk ditanam dirumah. Sebagai penghias rumah.
namun karena ketidak tahuan Azizah, Azizah kena duri. dan tidak sengaja tangkai itu patah oleh kekagetan Azizah karena kesakitan. Mana, sakitmu Ibu obati, penuh perhatian dan perlindungan.

Ibunya tersenyum paham dan memberikan pengertian kepada Azizah. "Azizah, maaf ibu tadi memarahimu. karena Ibu tidak mengerti kenapa kamu berbuat begitu, mematahkan tangkai mawar itu. Azizah, jangan sekali-kali lagi kamu mematahkan tangkai mawar, karena bila kamu mematahkan tangkai mawar berarti kamu telah mematikan kehidupan". Azizah mengangguk paham dan merasa begitu damai lagi dengan Ibunya. Lalu Azizah pergi ke kamarnya dan membereskan gambarnya tadi, namun tidak meneruskan mewarnainya, dia simpan di dalam lemari, karena menurutnya bunga mawar itu begitu indah, menyihir orang yang melihatnya. Memantulkan cahaya kedamaian didalam batin terhadap siapa saja yang melihatnya. Seperti cahaya yang tidak memilih-milih tempat yang dia terangi ...

Dari saat itu Azizah mulai tumbuh dewasa dengan ingatan bahwa bunga mawar adalah tanda kedamaian terhadap orang yang melihatnya. Tanpa tahu bahwa gambar mawarnya yang ada di dalam lemari bulum sempat diselesaikan. Azizah dewasa dengan wajah dan perangai yang begitu menarik. banyak teman-teman yang menyukainya, karena dalam jiwanya masih tertanam kata-kata ibunya bahwa "jangan kita mematahkan tangkai mawar, karena sama saja kita telah membunuh kehidupan". Dia memahami pengertian yang diberikan Ibunya sebagai sikapnya kepada teman-temannya. Bahwa dia tidak akan menyakiti temanya seperti mematahkan tangkai mawar. Sehingga itu jawaban kenapa dia memiliki banyak teman yang begitu baik kepadanya selain karena wajahnya yang menarik. Azizah tetap saja menggemaskan..

Setelah dia menginjakkan kakinya di dunia perkuliahan, dan lama tidak bertemu dengan ibunya. Lama tidak mencium tangan ibunya dan memeluknya. Karena Azizah telah merantau ke luar pulau untuk sekolah, meninggalkan kedamaian keluarganya. Lama tidak bercanda dengan ibu dan Ayahnya serta Adiknya, adiknya yang lahir saat azizah umur 12 tahun. Lama tidak memberikan senyumnya yang menarik terhadap keluarganya. Akhirnya ada rasa rindu yang seolah-olah akan meledak. Dia ingin saat liburan Semester pulang dari Jawa menuju ke kampungnya, Makasar. Pada liburan semester setelah dia mengumpulkan uang kehidupannya di perantauan untuk kembali mengobati rasa rindu kepada keluarganya, terutama pada ibunya yang telah mengajarkan pengertian-pengertian dalam hidup untuk berkasih sayang, bekerja keras, dan melindungi keluarganya.

Setelah dia pulang ke rumah, mata Ibu berkaca-kaca saat melihat anaknya pulang secara tiba-tiba setelah dua Tahun tidak bertemu, tidak seperti keadaan biasanya saat diakhiri dengan mendaftar kuliah di Jawa. Meluaplah segala kerinduan itu. Dipeluk, dicium, dipeluk, dicium, mencium ayahnya, adiknya, dan membawakan oleh-oleh untuknya.

Berjalanlah kehidupanya dengan keluarganya yang begitu damai selama beberapa hari. dan tidak dia lewatkan untuk bercengkrama dengan keluarganya. Terutama ibunya yang telah selalu memberikan pengertian dalam hidup untuk anak-anaknya, terutama dirinya.

Tibalah masa-masa akan masuk kuliah lagi, akhir dari liburan. Azizah tiba-tiba teringat dengan Perpisahan. Memang, segala jenis perpisahan tidak ada yang mengenakkan, apalagi berpisah dengan keluarganya yang indah, terutama Ibunya. Masa-masa itu, tepatnya 3 hari sebelum Azizah kembali ke Jawa. Azizah mencoba mengingat-ingat segala jenis keromantisan keluarga yang pernah dialami. Segalanya.. Coba kalian lakukan itu, pasti akan mengalir air mata yang entah dari mana datangnya... Sampi dia teringat dengan masa dimana dia mewarnai bunga mawar! Ya. Azizah ingat.

Lalu dengan wajah serius, dia bangun dari rebahannya di kamar, membuka pintu almari dan mencari-cari gambarannya dulu.

Tibalah saat perpisahan yang membencikan itu, berpisah dengan keluarga terutama ibunya. di pekarangan rumah Azizah berpamit untuk pergi ke jawa. meneruskan apa yang nentinya menjadi awal kebanggaan ibunya, menjadi seorang Dokter!


Dengan isak tangis, detik-detik kepergiannya merantau kembali. Di keluarkanlah gambar itu, gambar yang belum sempat selesai warnanya. Gambar yang menjadi awal segala jenis pengertian-pengertian selanjutnya dalam memahami hidup. bahwa hidup harus berkasih sayang terhadap semuanya, termasuk pada tumbuhan sekalipun. Itu semua didapat dari ibunya..

Mawar itu diwarnainya dengan warna merah. Tanda penuh keberanian, tanda penuh semangat kejujuran, tanda penuh pengorbanan. Hadiah untuk keluarganya, terutama ibunya.


(Rumah, 21 Desember 2010. Untuk hari Ibu, Ibu nomor satu di dunia)


Terima kasih telah membaca artikel: Ibu Seperti Bunga Mawar