Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

KEMBALIKAN KEBAHAGIAAN?

0 komentar
Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis diskripsi tentang kebahagiaan (bisa dilihat dalam catatan saya terdahulu). Sampai saat ini tidak ada yang salah dari kebahagiaan, bahwa saya senantiasa mengartikan kebahagiaan selalu menjadi tujuan utama dalam kehidupan manusia. Bila ada seseorang yang berkata bahwa "tujuan utama hidupku adalah bagaimana membuat orang tuaku bahagia", tentunya tidak ada yang salah dari kalimat ini. Namun bila dicermati secara mendalam, seseorang itu sebenarnya sedang menyusun skenario untuk mendapatkan kebahagiaan dirinya sendiri. Namun, mereka tidak mau mengakuinya, bukan karena mereka tidak tahu, namun karena kebahagiaan menurut mereka hanya bisa dilakukan melalui jalan berkorban untuk orang lain. Lalu pertanyaan saya, "apakah dalam mendapatkan kebahagiaan selalu harus menjadi korban?"

KEBAHAGIAAN

Kebahagian adalah sesuatu hal yang alamiah dimiliki makhluk Tuhan. Bukan hanya manusia, namun tumbuhan, hewan, angin, air, bumi, langit, semua akan menuju kepada kebahagiaan. Seumpama bejana kosong, kebahagiaan akan selalu mengisinya disaat semua makhluk Tuhan menjalankan misi utama kefitrohannya. Kefitrohan tumbuhan dan hewan misalnya adalah tumbuh dan bermanfaat bagi manusia, mereka dimanfaatkan bagi kehidupan manusia, kayunya, buahnya, keteduhannya, dagingnya, suaranya, keindahanya, kesetiaannya, dan lain sebagainya adalah untuk bisa dimanfaatkan oleh manusia. Kefitrohan angin adalah bergeraknya udara, angin mampu menyejukkan, menggiring awan, dimanfaatkan sebagai kincir angin, dan lain sebagainya. Mereka juga akan merasakan kebahagiaan karena menjalankan kefitrohannya. Lalu apa kefitrohan manusia, apakah berbuat baik, apakah tunduk kepada dzat yang lebih tinggi (baca: Tuhan), atau apakah kefitrohan manusia adalah menjadi manusia itu sendiri?

Kebahagiaan adalah sebuah kado, tanpa disadari saat kita menjalankan kefitrohan kita sebagai manusia maka dengan sendirinya kebahagiaan itu akan tertambat pada diri manusia yang menjalankan kefitrohannya. Sehingga, bisa dikatakan untuk mendapatkan kebahagiaan diperlukan upaya/kiat, namun bukan disebut sebuah pengorbanan. Karena semua makhluk Tuhan memang semestinya menjalankan kefitrohannya.

MASA KINI

"Ada seseorang yang telah merasa bahagia setelah mempunyai uang banyak sehingga bisa untuk membeli/memiliki apa yang dia inginkan." Apakah ada yang salah dalam kalimat ini? "Tidak". Bila saat ini ada seseorang yang berbicara bahwa kebahagian itu tak bisa di beli, maka mereka pantas dicurigai. Seorang miskin yang kelaparan, banyak yang menganggap bahwa (t)uhan adalah sekotak makanan. Dan disaat mereka tak mampu membelinya/mempunyainya maka sebahagian dari mereka menganggap kebahagiaan adalah suatu kenisbian. Bahkan kebahagiaan jenis ini telah menjangkit pada seluruh tatanan sosial, dimana "Kebahagiaan selalu berhubungan dengan perut." Tak perlu ada yang perlu di tampik, karena sebagian besar orang mempunyai pikiran bahwa menunjukkan rasa syukur terhadap manusaia didapat di meja makan, segala prestasi yang di dapat selalu berujung di perut. Sehingga, adakah yang salah dengan acara-acara kuliner yang secara halus mendoktrin masyarakat? Ataukah kita yang salah karena menyambut image tersebut tanpa berkesudahan?

Bagaimana jika kebahagiaan itu adalah mempunyai mobil mewah, rumah mewah, istri yang cantik, lelaki yang tampan, pakaian yang indah, Blackbarry, kedudukan yang tinggi, jabatan setingkat mentri, selagi ada uang semuanya bisa terbeli. Sekali lagi mohon jangan ditampik dengan cepat.

Di era mutakhir semacam ini, dimana banyak orang lupa pada kefitrohanya sendiri, lupa pada tugasnya dibumi. Namun mereka dengan riang gembira menjalani kehidupan tanpa melakukan apa yang mereka lupakan itu. Sehingga banyak orang salah kaprah dalam memandang sesuatu, karena sesuatu itu telah di monopoli oleh kaum kapitalis yang memonopoli media. Media selalu mampu menggiring masyarakat pada sesuatu hal yang sebenarnya adalah kepalsuan. Dan mereka (pun) mampu memantik hawa nafsu manusia, menjadikannya menjadi kompetisi yang begitu menggairahkan untuk dimenangkan.

MENGEMBALIKAN KEBAHAGIAAN

Tak ada kualitas iman yang baik tanpa dibarengi ilmu. Tak ada manusia yang jujur, tanpa mereka memahami kenapa harus bersikap jujur. Dan orang bodoh yang jujur, lebih baik daripada orang cerdas namun jahat. Iman selalu akan mendorong orang untuk berbuat baik, dan ilmu akan mendorong seseorang untuk mengerti bagaimana cara melakukan kebaikan. Iman nampaknya harus selalu di nomor satukan, dan yang kedua adalah ilmu. Sehingga kita dapat memperoleh jawaban bahwa, orang yang jujur dan cerdas, akan lebih baik daripada orang yang jujur namun bodoh dan juga akan lebih baik daripada orang yang cerdas namun menggunakan kecerdasannya untuk melakukan kejahatannya secara sempurna.

Kenapa saya berbicara soal mengembalikan kebahagiaan dengan Iman dan Ilmu? Karena kebahagiaan diperoleh sebab seseorang telah menjalankan kefitrohannya, maka bisa dibilang dia telah dekat dengan keimanan. Dan dengan menjalankan keimanan bagi orang yang berilmu. Mereka akan paham sebenarnya apa tugasnya di bumi, sehingga tidak mudah dibohongi oleh sesuatu jenis kebahagiaan yang dibuat oleh kaum industri. Mereka akan senantiasa mencurigai bila tubuhnya digerakkan untuk menuju kebahagiaan yang semu. Mereka akan mempunyai antibodi untuk menolaknya dengan ilmu yang di miliki. Tu(h)an, "KEMBALIKAN KEBAHAGIAAN KAMI !"

Oleh Amin Bagus Panuntun
Klaten, 4 Agustus 2012


Terima kasih telah membaca artikel: KEMBALIKAN KEBAHAGIAAN?

DO'A

0 komentar
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu...

Jakarta, 31 Juli 2009
 (Inilah puisi terakhir yang ditulis  WS Rendra beberapa bulan sebelum dia bertemu kematiannya)

Dalam setiap do'a, selalu terkandung ketegangan. Dalam harap yang sangat, dalam kemauan Tuhan yang tidak pernah kita tahu sebelum semuanya terwujud. Hingga lidah tak bisa bertingkah sedikitpun. Karena kita adalah harap.

“Di pintu-Mu aku mengetuk,
aku tak bisa berpaling,” -Chairil Anwar-

Selalu ada ketegangan. Dalam do'a selalu ada ketegangan.

Bila agama yang (saya yakini) membenci syair. Barangkali saya tidak akan pernah berdo'a. Atau barangkali agama itu lupa bahwa do'a adalah syair. Karena agama (yang saya yakini) tak membenci syair. Oleh karena itu saya percaya bahwa do'a adalah sejenis puisi. Dia akan selalu puitis untuk diucapkan. 

Kamar, 8 Juni 2012

Terima kasih telah membaca artikel: DO'A

MANUSIA

0 komentar
Aku sudah mulai muak dengan kehidupan dunia semacam ini. Aku merasa sudah tak mampu lagi menahan diri menghadapi manusia yang mulai mati pikirannya. Sukmaku serasa sudah hancur tak karuan menghadapi manusia bodoh tetapi yakin, bagiku manusia semacam itu sama bahayanya dengan manusia-manusia yang merusak kebenaran.

Banyak orang-orang mengatakan "kita kehilangan kebersamaan, lupa mementingkan kepentingan bersama" tapi kenapa tiba-tiba kita selalu kembali ke kepentingan sendiri?
Aku sudah tak berdaya lagi menghadapi semua ini. Jalanku sudah mulai bopeng tak karuan. Otakku yang memang sengaja aku tempatkan di dengkul agar tak mampu merasa, kini sudah mulai mampu merasa. Aku mulai bingung mau ditempatkan dimana lagi otakku.

Tragedi manusia modern ini bukanlah kerena mereka makin sedikit tahu makna hidupnya, tapi karena manusia ini semakin tak peduli. Otak-otak kita lumpuh tak mau lagi diajak berpikir, otak kita sudah mulai malas bekerja. Otak kita digantikan dengan kepentingan, otak kita di intimidasi dengan semangat kapitalistik dan materialistik. Seolah-olah bila kepentingan kita terusik, kita punya HAK untuk marah besar dan memaki-maki. Namun bila kita menjalankan kepentingan kita dengan jalan mengusik kepentingan orang lain, kita cukup bilang "INI UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA"

Manusia, Manusia di kehidupan sekarang ini sudah mulai disiksa oleh ketidaktahuannya tentang tugasnya dibumi, tapi manusia ini tetap dengan riang melaksanakan tugas yang tak jelas itu. Aku sudah mulai tak yakin dengan kehidupan semacam ini. Manusia-manusia yang jalannya miring melihat sesuatu dengan jalan miring. Kita tak mau menegakkan diri kita untuk belajar agar tahu tugas kita. Orang-orang hanya melihat dengan cara separo-separo. Orang-orang sudah mulai lupa cara melihat permasalahan hidup secara utuh. Jalan kita sungguh sudah miring. Kita jadi manusia-manusia bopeng.

Manusia sekarang hanya karena permasalahan yang sepele emosi mereka bisa berubah-ubah seolah-olah mereka bukan dalang bagi dirinya sendiri. Mereka hanya jadi manusia-manusia plastik yang berjalan diatas aspal kepentingan. Mengendarai sikap kapitalistik dan menuju ke tempat yang disebut jalan materialistik. Semua diukur serba uang, seolah-olah uang sudah menjadi berhala, seoalah-olah kesuksesan sudah menjadi benda yang harus di miliki. Hanya untuk satu tujuan agar disebut orang berhasil, orang yang punya jabatan, orang yang pintar atau orang yang sukses. Kini, semua menjadi diukur serba benda.

Tuhan, bila sejarah ingin kau ulangi. Bila sejarah tentang air bah yang menutup daratan bumi kau munculkan lagi seperti di kisah nabi Nuh. Aku ingin KAU selamatkan guru-guru, budayawan, dan seniman. Biar mereka mulai mengolah kembali pola pikir dan akhlak anak-anak yang akan tumbuh menjadi dewasa. Lebih baik KAU beri cobaan kepada kami dengan bencana yang sebenarnya, daripada KAU coba kami dengan bencana keimanan semacam ini. Tuhan, kalau revolusi benar-benar kau kehendaki, aku ingin pintaku tadi terpenuhi. Itu saja...

Tuhan, aku sudah mulai muak dengan keadaan semacam ini. Orang-orang yang mau berpikir malah di caci-maki, di beri sumpah serapah oleh orang yang merasa lebih tahu padahal tak tau diri. Aku sudah mulai melemah tak berdaya, aku sudah mulai linglung dengan keadaan otakku sekarang ini.Tuhan, saya hanya ingin orang-orang tahu dan saya sendiri juga  memahami bahwa; cara untuk menyampaikan kebaikan hanya bisa dilakukan dengan menjadi orang baik. Bukan sekedar berjanji namun di ingkari. Padahal bila ingin tidak berjanji juga butuh janji.Tuhan, aku ingin semua ini berakhir...

Oleh Amin Bagus P
Pantai Yogyakarta, 31 Desember 2011
Menjelang pergantian Tahun
Terima kasih telah membaca artikel: MANUSIA

Essai "Pendidikan"

0 komentar

ESSAI "PENDIDIKAN"

oleh Amin Bagus P pada 19 April 2011 jam 23:29
Bila kita tahu, Tujuan yang tidak kasat mata "Pendidikan" sekarang adalah memenuhi kebutuhan Pasar.

seperti yang dituliskan Louis O. Kattsoff

"Kebebasan akal hanya terjadi melalui pendidikan yang bebas
berdasar penyelidikan kefilsafatan ...

Dewasa ini kita banyak mendengar tentang pendidikan yang bebas dan kebutuhan pandangan yang luas. Pada hakikatnya apakah yang tersangkut dalam hal ini? Sesungguhnya, banyak pendidikan dewasa ini didasarkan atas suatu pandangan dunia yang mengatakan bahwa pencarian nafkah merupakan kebaikan tertinggi.

Menghasilkan seorang ahli yang cakab, terlampau sering menjadi tujuan pendidikan yang hendak kita capai. kita mendidik para ahli di bidang kedokteran untuk menjadikan diri kita lebih sehat, demikian pula dibidang-bidang lainnya. tetapi sayang, kita cenderung lalai mendidik ahli-ahli yang dapat menjadikan kita lebih bijaksana. Tujuan pendidikan yang demikian menyebabkan para ahli tersebut tidak bisa membuat kita menjadi lebih bijaksana. Mereka banyak mengajarkan kepada kita "bagaimana cara berbuat" tetapi bukannya "mengapa berbuat demikian".

Untuk mengetahui mengapa orang berbuat, seseorang perlu mendapatkan pendidikan khusus yang dapat membekali analisa yang kritis dan kecakapan bersinestesia dalam memberikan tanggapan-tanggapan. tetapi disamping itu. "mengapa berbuat demikian" hanya dapat diperoleh melalui proses yang bertentangan dengan pendidikan keahlian yang memusatkan perhatian kepada hal-hal yang khusus. Proses tersebut ialah penyusunan suatu pandangan dunia berupa sintesa, yang menjadikan "mengapa berbuat" mengandung makna: suatu sintesa prinsip-prinsip yang paling utama di segala cabang pengetahuan".

Selain kesimpulan diatas, bila kita menganalisis akibat dari pendidikan yang mengajarkan "bagaimana cara berbuat" sudah tentu akan banyak dokter yang akan banyak berdo'a agar banyak orang sakit, seorang politikus menggunakan seni konspirasi atau melegalkan demokrasi transaksional maupun demokrasi kriminal guna memperkaya diri dan golongannya, Guru akan mendidik lebih manusiawi dengan daripada sibuk memikirkan gaji yang kurang sesuai (Karena pemerintah sudah memberikan gaji yang tinggi bila para pembuat kebijakan adalah seorang yang dididik untuk mengerti "mengapa berbuat demikian" ) atau bahkan seorang penggali kubur demi mendapatkan pekerjaan akan berdo'a agar banyak orang yang mati.

Hal-hal ini perlu diwaspadai serta disekenario ulang sejak sekarang.

***

Kita tahu bahwa segala jenis pendidikan itu perlu, karena manusia yang berpendidikanlah yang akan mewujudkan sebuah peradaban yang baik. Termasuk juga pendidikan formal, sering kita sebut SEKOLAH.
Sekolah menurut peraturan pemerintah mempunyai otonomi tersendiri dengan porsi tertentu, namun karena birokrasi yang salah maka timbul apa yang disebut 'loyalitas terhadap dinas'. Maksud saya, sekolah tidak mampu lagi berbuat banyak untuk menjadi sekolah yang mencerdaskan masyarakat. Para birokrat lebih sibuk memakai lipstik dan bedak agar terlihat lebih cantik dihadapan birokrasi diatasnya.

Anies Baswedan seorang rektor termuda universitas Paramadina telah mewujudkan basis beasiswa yang diperoleh dari pasar. "Saya tanya mereka “Apakah mau pendidikan kita seperti ini,?” semuanya mengatakan tidak. Dan lebih mudahnya lagi adalah perusahaan-perusahaan swasta adalah pemanfaatan orang-orang terdidik tanpa mengeluarkan biaya sama sekali".

berarti bisa saya tarik kesimpulan, karena pendidikan itu berorientasi pada pasar. Maka, bila pendidikan tidak menciptakan para ahli-ahli yang dibutuhkan pasar, tentunya pasar akan keok. Ada hubungan timbal balik seharusnya, namun yang kita lihat hal-hal tersebut tidak ada. Pasar terlalu kuat untuk mendekte pendidikan. Sedangkan hasil dari pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat menjadi banci, tidak mampu menunjukkan eksistensinya sebagai masyarakat berpendidikan yang MERDEKA.

Tentunya benar kata seniman kita Putu Wijaya. "Kemerdekaan bila dimiliki orang yang belum siap menerima kemerdekaan, maka kemerdekaan itu adalah kematian". Seperti kematian wajah Pendidikan Indonesia saat ini.

***

Fenomena yang banyak terjadi sekarang, pelaku teroris dari bom atau bom bunuh diri, tawuran antar warga, tawuran suporter sepakbola yang sulit dikendalikan, perang antara warga dengan TNI, korupsi, pengemplangan pajak, kasus money londry, dan lain sebagainya. Riset mengatakan bahwa ini semua karena pendidikan masyarakat yang lemah. Tentunya pendidikan yang saya maksud adalah pendidikan Spiritual, moral, kemanusiaan, akhlaq, pengetahuan, kebijaksanaan, kepemimpinan, dan yang mempunyai andil lainnya.

Jawabannya...
Bagaimana bila sekolah merupakan pusat pengetahuan, bukan lagi sekedar pusat pendidikan yang dapat kita saksikan di sekolah-sekolah dewasa ini.

Misalkan selain diadakan proses belajar mengajar formal Guru dan murid, masyarakat lokal bisa memiliki sekolah guna pembentukan akumulasi-akumulasi pengetahuan dan kebudayaan. Dengan sekolah memiliki perpustakaan umum, perpustakaan itu bisa menjadi daya tarik masyarakat sekitar untuk selalu membaca buku. Menambah pengetahuan masyarakat. Selain itu akibat-akibat yang lain tentu akan lebih banyak. Karena masyarakat mulai terbuka pikirannya dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH. SU Pernah bilang "Universitas-Universitas tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk menjadi pandai dan sukses. Tapi Universitas dibangun bagi mereka yang ingin pandai dan meraih sukses. dan Sewajibnya di Universitas di tempa kecerdasan otak, digodok kematangan emosi dan dibina keluhuran watak".

Peradaban yang baik pastilah yang kita harapkan, Kedamaian, Kemandirian, Kesuksesan, Kekayaan, Kenyamanan, dan unsur-unsur lainnya Ingin Segera kita wujudkan.

Oleh AMIN BAGUS PANUNTUN.
Rumah, 19 April 2011

Terima kasih telah membaca artikel: Essai "Pendidikan"

Biarkan Al-Quran Berbicara Tentang Dirinya Sendiri

0 komentar
Ya, secara ldzfiah dan harfiah memang orang yang bisa lancar membaca Al-Quran itu bagus. Tapi secara hakikat, bila kita tahu, Al quran bukan hanya bisa dinilai hanya dengan kemampuan membaca? dan belum tentu orang yang tangkas membaca lebih baik dari orang yang lemah dalam membaca al quran.

Kamu pernah dengar, Al Quran itu ada di dalam jiwa kita? bukan hanya sekedar dalam imajinasi atau ucapan?
Barang kali aku terlalu Utopis, menginginkan diriku, teman-temanku, bahkan para ulama' sekalipun untuk katam al quran.
Katam yang aku maksud bukan beberapa kali kita selesai membaca, berapa merdu kita meliuk-liukkan suara dan nada begitu harmonis dengan makhrojul huruf atau tajwidnya. Ada yang lebih esensial.
Yaitu, "membiarkan Al-Quran berbicara sebagai dirinya sendiri". Bukan sebagai kita (manusia). Seorang ulama'pun lalai terhadap simbol ULAMA'nya, hanya karena dia tidak membiarkan Al quran berbicara sebagai dirinya sendiri. Banyak Ulama' tidak lagi mesra dengan Al quran.

Bila kita ingat, beberapa murid yang benar-benar hafal surat al-maun tidak bisa meneruskan untuk menghafal surat lainnya. Hanya karena murid-murid itu belum membuat al Quran berbicara sebagai dirinya. Dia hidup dalam jiwa kita, dan akhirnya kita mau berbuat untuk menyantuni anak yatim miskin, memberi makan mereka, dan tidak menghardik mereka.

Aku ingin banyak teman yang merasakan kegelisahannya untuk berbuat. Layaknya Al Quran yang yang seperti cahaya. karena Cahaya muncul begitu saja dari sesuatu yang bisa memancar. Dan cahaya tidak pernah memilih untuk menerangi tempat apapun, Walaupun dia kotor dan menjijikkan sekalipun.

Apa kita semua pernah mendengar?
bahwa bentuk asli kegelisahan, kekecewaan dan kekhawatiran adalah TINDAKAN!

bila kita merasa gelisah trhadap sesuatu yang noir (gelap), biarkan cahaya itu masuk! Jangan dicegah...

Kita harus merubah sesuatu yang noir itu, menjadi keadaan yang begitu terang! karena dalam jiwa kita ada pengertian Al Quran. Kita harus merubah sesuatu yang tidak sesuai dengan Pribadi Al Qur'an.

Ini adalah keyakinan. Walaupun membuat Al-quran berbicara sebagai dirinya sendiri itu menyulitkan.
Aku tidak mau membiarkan Kebenaran melawan Keyakinan. Kita harus mengatamkan Al-Quran!


Terima kasih telah membaca artikel: Biarkan Al-Quran Berbicara Tentang Dirinya Sendiri

Kala Kecantikan Menindas Wanita

0 komentar
Apa yang anda pikirkan tentang kecantikan?

apakah wanita yang langsing itu cantik?
apakah wanita yang gemuk itu cantik?
apakah wanita yang putih itu cantik?
apakah wanita yang hitam itu cantik?
apakah wanita yang tinggi itu cantik?
apakah wanita yang pendek itu cantik?
apakah wanita yang berambut lurus itu cantik?
apakah wanita yang berambut kriting itu cantik?

Apakah kamu adalah wanita yang menjadi diri sendiri.

Mengapa iklan sering menggunakan wanita putih, tinggi, langsing, berambut lurus?
Itu yang sering saya sebut Selera propaganda, yang pada akhirnya wanita tidak mampu menunjukkan siapa sebenarnya dirinya seperti yang di harapkannya. Kenapa hal tersebut terjadi, karena nilai kita sebagai seseorang yang bisa menilai harus didekte oleh iklan tersebut, yang notabane adalah Industri. Karena industri selalu bersifat komersial maka dengan cara sedemikian rupa harus ada yang dikorbankan, yaitu Konsumen.

Sekilas, perempuan seperti diuntungkan dengan munculnya beberapa produk kosmetik yang ‘seolah’ membantu mereka mengatasi problem kecantikannya. Namun secara bersamaan, perempuan juga dibombardir dengan segala informasi produk kecantikan yang menawarkan banyak idealisasi citra diri yang sangat bias. Bias, mengingat perempuan sebagai manusia seharusnya dipandang secara seimbang dari dua aspek sekaligus; jasmaniah dan ruhaniahnya. Kecantikan perempuan memiliki dua sisi yang harus dipadukan agar terwujud kecantikan yang paripurna (Tilaar, 1999).

Steorotip-stereotip (pencitraan) tersebut akhirnya semakin dekat dengan apa yang dilihat dalam iklan produk kecantikan. yang pada akhirnya seorang wanita hanya mempunyai dua pilihan : memiliki pikiran atau memiliki kecantikan.

Tanpa disadari kita semua Sulit untuk menemukan wanita yang  memiliki kesadaran mandiri atas identitasnya.

Saya pikir menjadi cantik adalah dambaan setiap wanita karena fitrah wanita memang menyukai kecantikan dan keindahan. Untuk mendapatkan pengakuan “cantik” ini banyak wanita yang kemudian menyiksa diri. Contohnya, seperti wanita pada zaman Dinasty Ming yang harus rela dipatahkan jari-jari kakinya demi mendapatkan kaki berukuran kecil. Beda lagi dengan penduduk Mongolia dan Tibet yang menganggap wanita cantik adalah yang berleher jenjang. Semakin panjang leher semakin cantiklah dia. Oleh karena itu, wanita di sana rela menglilit lehernya dengan banyak kalung timah yang mengikat erat di leher mereka sejak kecil. Semakin bertambah usia, jumlah kalung di leher mereka pun semakin bertambah sehingga membuat leher seolah tertarik ke atas.

Sampai saat ini pun masih terus ada wanita-wanita yang rela menyakiti dirinya demi tampil cantik.

Nah yang sering saya temui saat ini adalah wanita yang melakukan program diet. yang pada akhirnya menerima penyakit Aneroxia (Takut kegemukan). Lalu mereka melakukan diet ketat yang sebenarnya begitu menyakitkan dan tentunya tidak baik bagi kesehatan contohnya setelah makan harus dipaksa memuntahkan makanannya kembali. Ini artinya mereka malah menyakiti diri mereka sendiri hanya karena berkeinginan menjadi wanita langsing, cantik, seperti apa yang ada di iklan-iklan yang mereka lihat. Harus oprasi plastik, bahkan operasi virginity yang tentunya penuh resiko. Belum lagi bedak yang mahal, baju yang mahal, kawat gigi yang mahal, dan lain sebagainya.

Saya berharap seorang wanita mampu berpikiran jernih dan tidak hanya mengandalkan cita rasa hanya karena berkeinginan untuk menjadi cantik.

Saya akan mencoba menganalogikan dalam sebuah fabel.

Seekor lebah atau kupu-kupu terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan. Tercekik lunglai kehabisan oksigen.

Kita pun kadang tidak sadar akan hal tersebut. Secara lahiriyah kita terlihat indah dan elok oleh orang lain, tanpa masalah, tanpa beban. Misalkan saja, Ada wanita muda anak keluarga pas-pasan mempunyai kulit putih dengan bentuk tubuh dan kulit cap salon, lalu baju dengan bandrol harga yang bisa buat makan keluarga miskin selama satu bulan diperoleh dari kerja keras orang tuanya siang malam. Bukankah hal tersebut tanpa disadari telah menjadi malapetaka bagi kita? Sebuah kepalsuan. Mereka tidak mampu lagi mengekspresikan dirinya secara bebas, terkotak hanya pada bagaimana bisa terlihat cantik menurut selera propaganda dan tentunya menjadi pusat perhatian. Padahal bagi wanita, menjadi pusat perhatian di jaman buas seperti sekarang adalah ketidakamanan. Ditambah lagi dengan fenomena bahwa semua laki-laki itu jahat. Banyak lelaki jahat pun juga karena seorang wanita memang lebih menginginkan kecantikan daripada melatih pikiran. Kenapa begitu, karena seorang perempuan adalah IBU. Bila kita tahu, ternyata menjadi seekor lebah cantik, yang meliuk di dalam botol sebenarnya sama sekali kita tidak mampu bebas untuk terbang. Gelisah, Palsu, dan mati pelan-pelan.

Sebenarnya untuk apa wanita atau bahkan laki-laki ingin terlihat "wah"? Andaikata ada seorang wanita ingin menarik laki-laki agar menyukainya dengan cara berpakaian terbuka. memang banyak yang akan mendekat, karena lelaki sekarang sudah jadi jahat. Tapi bukankah wanita itu tetap akan harus menyeleksi dari sekian banyak laki-laki. seperti bangkai menyeleksi beribu-ribu lalat.

Namun ternyata ada juga wanita yang berpakaian anggun, bertuturkata santun dan bertingkah sopan. Sederhana dalam pikiran, kata dan perbuatan. Kelihatannya memang hanya sedikit laki-laki yang akan mendekat, namun bukankah laki-laki itu sudah terseleksi dan final?

Saya tidak menyimpulkan bahwa karangan ini salah atau benar karna ini adalah kerelatifan. Hanya berangkat dari apa yang saya lihat didampingi literatur-literatur yang pernah saya baca. Intinya saya tidak sewot, itu pilihan. Menjadi siapa seseorang itu, itu adalah PILIHAN.

Terbang bebas seperti kupu-kupu atau lebah nan cantik dan indah, dengan MEMBEBASKAN PIKIRAN dan mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Bahwa kita semua adalah "MADE IN ALLAH".

Oleh Amin Bagus Panuntun
Rumah, 30 November 2010

Terima kasih telah membaca artikel: Kala Kecantikan Menindas Wanita

Kajian Kehidupan Jilid II

0 komentar
"Allah menciptakan manusia dgn keadaan paling sempurna". Bagaimana agar kt sempurna?
Apakah kenikmatan dan terhindar dari sakit itu adalah kebahagiaan?
Punya uang, Belanja2 baju mahal, bisa pny mobil ganti2, dilahirkan di keluarga kaya, makan enak, seks, dll sekaligus bisa terhindar dari sakit. Betapa nikmatnya? Binatang pun juga. Ada mangsa banyak, makan, seks, dan tidak sakit juga sebuah kenikmatan.
Apakah tidak beda dengan binatang? Dan apakah itu secara etika bisa membuat kebahagiaan puncak walau disertai napsu?
Aq rasa bukan yg seperti ini untuk mendapatkan kebahagiaan diri. Aq rasa itu hanya menjadi peranan agar kehidupan kt terasa baik.
Lalu yang seperti apa?
Dalam agama islam jelas bahwa bila ingin surga (bertemu tuhan), atau untuk mendapat ketenangan batin (kebahagiaan) maka harus menjadi manusia yg bertakwa (moralis). Hal ini apakah masuk akal? Jawabannya adalah "YA". Maka hidup dalam kebaikan adalah hidup yg bermutu. Yg membuat manusia dikatakan sempurna.

Bagaimana hidup yg bermutu itu?
Kita mengenal MUHAMMAD, bagaimana seorang muhammad itu?
Dia punya sifat yg akhirnya membuat dia mendapatkan kebahagiaan.
Manusia yang sempurna. Pandai, jujur, menyampaikan, dapat dipercaya, santun, kritis, moralis, sabar, pemberi, pemaaf, belajar, berpolitik, bersedekah, dan banyak tindakan2 profetik lainnya.

Inilah etika kehidupan dgn pengkajian filosofis. Jadi dengan filsafat akan malah bisa menjabarkan dgn lebih detail suatu ilmu sekaligus karakter manusia serta al quran. Dan kita akan menjadi lebih bijaksana, mencintai kehidupan, sekaligus mengenal ALLAH dengan lebih dekat. Dan filsafat tdk akan menciptakan agama baru.
Terima kasih telah membaca artikel: Kajian Kehidupan Jilid II

Kajian Kehidupan Jilid I

0 komentar
Menjadi seorang manusia yg sempurna pasti merupakan suatu keinginan, banyak skali manusia di sekitar kt. Ada yg miring, setengah lumpuh, aneh, busuk, dll. Ternyata kt juga terancam utk menjadi manusia yg sperti itu. Kita mulai pembahasan untuk menjadi manusia sempurna. "ketrampilan, tatanan, keputusan, keyakinan akan muncul krn mengejar suatu nilai". Misal : kita makan karena kt lapar. Tujuan kt adalah kenyang. Kita menipu, kt sekolah. Semua krn tujuan, menipu agar dapat uang, sekolah agar kt pintar, Sangat sederhana. Namun hal ini terkesan amat rumit barangkali karna tujuan kt tidak tercapai, lalu karena etika yg ada, atau faktor2 lain. Dan bayangkan saat manusia tdk bisa mencapai tujuan, pasti akan tercecer lalu dia berantakan. Sejatinya ada dua tujuan manusia, tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara bisa dilihat contoh diatas, misal: kt sekolah agar lulus, kt bekerja agar dapat uang, kt bekerja agar naik jabatan, dll. Semua itu tujuan sementara dan sifatnya adalah sarana utk tujuan yg lebih tinggi. Namun pertanyaannya, apa tujuan akhir manusia? Agar manusia benar2 puas¿ Dan tidak berbuat apa2 lg. Saya mengatakan "kebahagiaan", dan kebahagiaan tertinggi adlh bertemu tuhan.
 
Ada pertanyaan, bagaimana kebahagiaan itu bisa terwujud?. Kebahagiaan bila kita cari, maka tidak akan ada kbahagiaan yg akan kt dapat. Karena sifat kebahagiaan itu adalah "diberi" bukan "direbut". Seperti halnya kt menerima hadiah dr orang lain. Mengapa kt diberi hadiah?
 
Kita akan masuk dalam cara menuju kebahagiaan. Dgn bahasa sederhana. Kt tdk akan bisa membidik langsung hadiah itu agar orang lain memberikan. Namun berupaya BAIK lah yg nanti akan membuat orang lain mengikhlaskan diri untuk melakukan sesuatu. Apa itu moral?
 
Moral adalah tindakan baik dan buruk. Misal: dalam agama mengajarkan "jangan mencuri", maka jangan mencuri. Kt tidak akan mengenyampingkan agama. Krn kt malah akan mencoba mengkaji lebih detail hal tersebut. Agar kt bisa mempelajari secara rasional. Hidup yg seperti apa yg bisa memberi kebahagiaan?
Terima kasih telah membaca artikel: Kajian Kehidupan Jilid I

AKU + TUHAN = CUKUP

1 komentar
ini adalah istilah dari mari0 teguh guna memahami sebuah kehidupan. Nah kalau aq b0leh meng- interpretasi. B0leh ya buk? Ya... Hahaha

aq kira tujuan semua manusia adlh kebahagiaan, dan kebahagiaan tertinggi adlh bertemu Tuhan.
Kal0 b0leh memakai bahasa arist0teles (filsuf yunani). B0leh ya pak. . Kt tahu bahwa kt menjalani hidup krn kt punya tujuan. P0int pertama (arist0teles), "kebahagiaan itu bukan untuk dicari, krn smakin kt mencari kebahagiaan maka kt smakin tdk akan mendapat kebahagiaan". P0int kedua (amin bagus p), "kebahagiaan itu adlh pengupayaan, seperti halnya sbuah keseimbangan. Keseimbangan itu bukan k0ndisi, melainkan sebuah pr0ses". P0int ketiga (waladz0lin aamin), tujuan kt adlh kebahagiaan, maka dr sini terlihat kesan bahwa kt eg0isentris. Namun tdk seperti itu, karena?. P0int kelima, kt diciptakan oleh Tuhan dgn pikirannya yg baru, sehingga banyak sekali cara manusia memaknai hidupnya dngan akal dan hati. P0int ke enam, Tuhan mempunyai asmaul husna dan kt diberitahu untuk menjadi pengasih, penyayang, pemberi, kuat, dll. P0int ke tujuh, sifat Tuhan itu semua saya sebut sebagai instrument untuk menjadi bahagia. Jadi meskipun " saya + Tuhan = cukup" itu sudah cukup menjadi hakikat dr "hblumminannas".... Hubungan manusia dengan manusia dengan sifat-sifat yang ada.
(tiap p0int mengandung relevansi dgn p0int yg lain". Itu interpretasiku oleh pemikiran mari0 teguh. Tapi kal0 ingin ngerti interpretasi mari0 teguh. Maka tak0k'0 dewe ya pak dan ibuk. Hahahahahahahahahah. . . Al - fatihah. . . .
: ) Terima kasih telah membaca artikel: AKU + TUHAN = CUKUP

Tulisan Pertamaku Setelah Belajar Filsafat

0 komentar
Bagaimana sejarah filsafat itu?
Esensinya Berawal dari mitos, kamu ngreti kan apa itu mitos? Mitos adalah suatu pernyataan yang timbul disaat sesorang telah tertahan tembok di alam pikirnya.
Tidak dipungkiri filsafat adalah mother of sience.
Kenapa ada fisika?
Kenapa ada kimia?
Kenapa ada matematika?
Kenapa ada bahasa?
Semua bertolak dari filsafat.
Apa itu filsafat? Coba kalian jawab sendiri dalam hati.

Sesungguhnya filsafat itu sangat menarik, karena kita dituntut untuk berfikir liar.
Namun kalian jg harus tau bahwa filsafat adalah bumerang yg paling berbahaya. karena disaat kt belajar filsafat tanpa disadari kt telah melepas atribut kita,terutama agama.
Disaat kalian mempelajarinya,kalian harus tahu tujuan2 kita mempelajari itu!
ada filsafat dunia, filsafat manusia,teologi.
Tujuan filsafat adalah menjadikan kita bijak dan bersyukur atas DIA pemberi hidup (ALLAH swt) dengan keimanan yg kuat!! ITU!!!
Oleh krn itu kuakanlah akidahmu bahwa buyut dari ilmu adalah AL-QURAN DAN AL-HADIS. Bukan alam pikir manusia yg liar..

--Sesungguhnya ALQURAN adalah cahaya--

Klaten, 6 Mei 2009 


Terima kasih telah membaca artikel: Tulisan Pertamaku Setelah Belajar Filsafat