Keromantisan

0 komentar
Ada sebuah tempat,
dimana kita tidak bisa meminta seperti yang kita inginkan
di dalam mimpi hal itu bersemayam begitu nyata
senyata bintang-bintang di langit.

biarlah kita mengumbar kemesraan di tiap malam
lalu pergi ke tempat yang tidak bisa meminta tadi
namun hanya saat itu kitalah yang bisa berdamai dengan batin
itu adalah keromantisan, bukan hanya dalam kata

bila kamu tahu, cantik bukan dilihat dari wajah.
apa kamu yakin?
bagaimana bila aku bilang kalau cantik berasal dari mata!
kau akan sedikit tersenyum sebagai penghormatan terakhir pada pemberi hidup setelah berdoa

sebagai tempat mengistirahatkan mata
agar mata itu tetap bisa menunjukkan kecantikanmu esok pagi
dalam kedamaian batin
dan kedamaian yang menyihir.


(Rumah, 12 Desember 2010. Untuk seseorang yang menginginkan keromantisan sebelum tidur)
Terima kasih telah membaca artikel: Keromantisan

Kala Kecantikan Menindas Wanita

0 komentar
Apa yang anda pikirkan tentang kecantikan?

apakah wanita yang langsing itu cantik?
apakah wanita yang gemuk itu cantik?
apakah wanita yang putih itu cantik?
apakah wanita yang hitam itu cantik?
apakah wanita yang tinggi itu cantik?
apakah wanita yang pendek itu cantik?
apakah wanita yang berambut lurus itu cantik?
apakah wanita yang berambut kriting itu cantik?

Apakah kamu adalah wanita yang menjadi diri sendiri.

Mengapa iklan sering menggunakan wanita putih, tinggi, langsing, berambut lurus?
Itu yang sering saya sebut Selera propaganda, yang pada akhirnya wanita tidak mampu menunjukkan siapa sebenarnya dirinya seperti yang di harapkannya. Kenapa hal tersebut terjadi, karena nilai kita sebagai seseorang yang bisa menilai harus didekte oleh iklan tersebut, yang notabane adalah Industri. Karena industri selalu bersifat komersial maka dengan cara sedemikian rupa harus ada yang dikorbankan, yaitu Konsumen.

Sekilas, perempuan seperti diuntungkan dengan munculnya beberapa produk kosmetik yang ‘seolah’ membantu mereka mengatasi problem kecantikannya. Namun secara bersamaan, perempuan juga dibombardir dengan segala informasi produk kecantikan yang menawarkan banyak idealisasi citra diri yang sangat bias. Bias, mengingat perempuan sebagai manusia seharusnya dipandang secara seimbang dari dua aspek sekaligus; jasmaniah dan ruhaniahnya. Kecantikan perempuan memiliki dua sisi yang harus dipadukan agar terwujud kecantikan yang paripurna (Tilaar, 1999).

Steorotip-stereotip (pencitraan) tersebut akhirnya semakin dekat dengan apa yang dilihat dalam iklan produk kecantikan. yang pada akhirnya seorang wanita hanya mempunyai dua pilihan : memiliki pikiran atau memiliki kecantikan.

Tanpa disadari kita semua Sulit untuk menemukan wanita yang  memiliki kesadaran mandiri atas identitasnya.

Saya pikir menjadi cantik adalah dambaan setiap wanita karena fitrah wanita memang menyukai kecantikan dan keindahan. Untuk mendapatkan pengakuan “cantik” ini banyak wanita yang kemudian menyiksa diri. Contohnya, seperti wanita pada zaman Dinasty Ming yang harus rela dipatahkan jari-jari kakinya demi mendapatkan kaki berukuran kecil. Beda lagi dengan penduduk Mongolia dan Tibet yang menganggap wanita cantik adalah yang berleher jenjang. Semakin panjang leher semakin cantiklah dia. Oleh karena itu, wanita di sana rela menglilit lehernya dengan banyak kalung timah yang mengikat erat di leher mereka sejak kecil. Semakin bertambah usia, jumlah kalung di leher mereka pun semakin bertambah sehingga membuat leher seolah tertarik ke atas.

Sampai saat ini pun masih terus ada wanita-wanita yang rela menyakiti dirinya demi tampil cantik.

Nah yang sering saya temui saat ini adalah wanita yang melakukan program diet. yang pada akhirnya menerima penyakit Aneroxia (Takut kegemukan). Lalu mereka melakukan diet ketat yang sebenarnya begitu menyakitkan dan tentunya tidak baik bagi kesehatan contohnya setelah makan harus dipaksa memuntahkan makanannya kembali. Ini artinya mereka malah menyakiti diri mereka sendiri hanya karena berkeinginan menjadi wanita langsing, cantik, seperti apa yang ada di iklan-iklan yang mereka lihat. Harus oprasi plastik, bahkan operasi virginity yang tentunya penuh resiko. Belum lagi bedak yang mahal, baju yang mahal, kawat gigi yang mahal, dan lain sebagainya.

Saya berharap seorang wanita mampu berpikiran jernih dan tidak hanya mengandalkan cita rasa hanya karena berkeinginan untuk menjadi cantik.

Saya akan mencoba menganalogikan dalam sebuah fabel.

Seekor lebah atau kupu-kupu terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan. Tercekik lunglai kehabisan oksigen.

Kita pun kadang tidak sadar akan hal tersebut. Secara lahiriyah kita terlihat indah dan elok oleh orang lain, tanpa masalah, tanpa beban. Misalkan saja, Ada wanita muda anak keluarga pas-pasan mempunyai kulit putih dengan bentuk tubuh dan kulit cap salon, lalu baju dengan bandrol harga yang bisa buat makan keluarga miskin selama satu bulan diperoleh dari kerja keras orang tuanya siang malam. Bukankah hal tersebut tanpa disadari telah menjadi malapetaka bagi kita? Sebuah kepalsuan. Mereka tidak mampu lagi mengekspresikan dirinya secara bebas, terkotak hanya pada bagaimana bisa terlihat cantik menurut selera propaganda dan tentunya menjadi pusat perhatian. Padahal bagi wanita, menjadi pusat perhatian di jaman buas seperti sekarang adalah ketidakamanan. Ditambah lagi dengan fenomena bahwa semua laki-laki itu jahat. Banyak lelaki jahat pun juga karena seorang wanita memang lebih menginginkan kecantikan daripada melatih pikiran. Kenapa begitu, karena seorang perempuan adalah IBU. Bila kita tahu, ternyata menjadi seekor lebah cantik, yang meliuk di dalam botol sebenarnya sama sekali kita tidak mampu bebas untuk terbang. Gelisah, Palsu, dan mati pelan-pelan.

Sebenarnya untuk apa wanita atau bahkan laki-laki ingin terlihat "wah"? Andaikata ada seorang wanita ingin menarik laki-laki agar menyukainya dengan cara berpakaian terbuka. memang banyak yang akan mendekat, karena lelaki sekarang sudah jadi jahat. Tapi bukankah wanita itu tetap akan harus menyeleksi dari sekian banyak laki-laki. seperti bangkai menyeleksi beribu-ribu lalat.

Namun ternyata ada juga wanita yang berpakaian anggun, bertuturkata santun dan bertingkah sopan. Sederhana dalam pikiran, kata dan perbuatan. Kelihatannya memang hanya sedikit laki-laki yang akan mendekat, namun bukankah laki-laki itu sudah terseleksi dan final?

Saya tidak menyimpulkan bahwa karangan ini salah atau benar karna ini adalah kerelatifan. Hanya berangkat dari apa yang saya lihat didampingi literatur-literatur yang pernah saya baca. Intinya saya tidak sewot, itu pilihan. Menjadi siapa seseorang itu, itu adalah PILIHAN.

Terbang bebas seperti kupu-kupu atau lebah nan cantik dan indah, dengan MEMBEBASKAN PIKIRAN dan mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Bahwa kita semua adalah "MADE IN ALLAH".

Oleh Amin Bagus Panuntun
Rumah, 30 November 2010
Terima kasih telah membaca artikel: Kala Kecantikan Menindas Wanita

Kala Kecantikan Menindas Wanita

0 komentar
Apa yang anda pikirkan tentang kecantikan?

apakah wanita yang langsing itu cantik?
apakah wanita yang gemuk itu cantik?
apakah wanita yang putih itu cantik?
apakah wanita yang hitam itu cantik?
apakah wanita yang tinggi itu cantik?
apakah wanita yang pendek itu cantik?
apakah wanita yang berambut lurus itu cantik?
apakah wanita yang berambut kriting itu cantik?

Apakah kamu adalah wanita yang menjadi diri sendiri.

Mengapa iklan sering menggunakan wanita putih, tinggi, langsing, berambut lurus?
Itu yang sering saya sebut Selera propaganda, yang pada akhirnya wanita tidak mampu menunjukkan siapa sebenarnya dirinya seperti yang di harapkannya. Kenapa hal tersebut terjadi, karena nilai kita sebagai seseorang yang bisa menilai harus didekte oleh iklan tersebut, yang notabane adalah Industri. Karena industri selalu bersifat komersial maka dengan cara sedemikian rupa harus ada yang dikorbankan, yaitu Konsumen.

Sekilas, perempuan seperti diuntungkan dengan munculnya beberapa produk kosmetik yang ‘seolah’ membantu mereka mengatasi problem kecantikannya. Namun secara bersamaan, perempuan juga dibombardir dengan segala informasi produk kecantikan yang menawarkan banyak idealisasi citra diri yang sangat bias. Bias, mengingat perempuan sebagai manusia seharusnya dipandang secara seimbang dari dua aspek sekaligus; jasmaniah dan ruhaniahnya. Kecantikan perempuan memiliki dua sisi yang harus dipadukan agar terwujud kecantikan yang paripurna (Tilaar, 1999).

Steorotip-stereotip (pencitraan) tersebut akhirnya semakin dekat dengan apa yang dilihat dalam iklan produk kecantikan. yang pada akhirnya seorang wanita hanya mempunyai dua pilihan : memiliki pikiran atau memiliki kecantikan.

Tanpa disadari kita semua Sulit untuk menemukan wanita yang  memiliki kesadaran mandiri atas identitasnya.

Saya pikir menjadi cantik adalah dambaan setiap wanita karena fitrah wanita memang menyukai kecantikan dan keindahan. Untuk mendapatkan pengakuan “cantik” ini banyak wanita yang kemudian menyiksa diri. Contohnya, seperti wanita pada zaman Dinasty Ming yang harus rela dipatahkan jari-jari kakinya demi mendapatkan kaki berukuran kecil. Beda lagi dengan penduduk Mongolia dan Tibet yang menganggap wanita cantik adalah yang berleher jenjang. Semakin panjang leher semakin cantiklah dia. Oleh karena itu, wanita di sana rela menglilit lehernya dengan banyak kalung timah yang mengikat erat di leher mereka sejak kecil. Semakin bertambah usia, jumlah kalung di leher mereka pun semakin bertambah sehingga membuat leher seolah tertarik ke atas.

Sampai saat ini pun masih terus ada wanita-wanita yang rela menyakiti dirinya demi tampil cantik.

Nah yang sering saya temui saat ini adalah wanita yang melakukan program diet. yang pada akhirnya menerima penyakit Aneroxia (Takut kegemukan). Lalu mereka melakukan diet ketat yang sebenarnya begitu menyakitkan dan tentunya tidak baik bagi kesehatan contohnya setelah makan harus dipaksa memuntahkan makanannya kembali. Ini artinya mereka malah menyakiti diri mereka sendiri hanya karena berkeinginan menjadi wanita langsing, cantik, seperti apa yang ada di iklan-iklan yang mereka lihat. Harus oprasi plastik, bahkan operasi virginity yang tentunya penuh resiko. Belum lagi bedak yang mahal, baju yang mahal, kawat gigi yang mahal, dan lain sebagainya.

Saya berharap seorang wanita mampu berpikiran jernih dan tidak hanya mengandalkan cita rasa hanya karena berkeinginan untuk menjadi cantik.

Saya akan mencoba menganalogikan dalam sebuah fabel.

Seekor lebah atau kupu-kupu terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan. Tercekik lunglai kehabisan oksigen.

Kita pun kadang tidak sadar akan hal tersebut. Secara lahiriyah kita terlihat indah dan elok oleh orang lain, tanpa masalah, tanpa beban. Misalkan saja, Ada wanita muda anak keluarga pas-pasan mempunyai kulit putih dengan bentuk tubuh dan kulit cap salon, lalu baju dengan bandrol harga yang bisa buat makan keluarga miskin selama satu bulan diperoleh dari kerja keras orang tuanya siang malam. Bukankah hal tersebut tanpa disadari telah menjadi malapetaka bagi kita? Sebuah kepalsuan. Mereka tidak mampu lagi mengekspresikan dirinya secara bebas, terkotak hanya pada bagaimana bisa terlihat cantik menurut selera propaganda dan tentunya menjadi pusat perhatian. Padahal bagi wanita, menjadi pusat perhatian di jaman buas seperti sekarang adalah ketidakamanan. Ditambah lagi dengan fenomena bahwa semua laki-laki itu jahat. Banyak lelaki jahat pun juga karena seorang wanita memang lebih menginginkan kecantikan daripada melatih pikiran. Kenapa begitu, karena seorang perempuan adalah IBU. Bila kita tahu, ternyata menjadi seekor lebah cantik, yang meliuk di dalam botol sebenarnya sama sekali kita tidak mampu bebas untuk terbang. Gelisah, Palsu, dan mati pelan-pelan.

Sebenarnya untuk apa wanita atau bahkan laki-laki ingin terlihat "wah"? Andaikata ada seorang wanita ingin menarik laki-laki agar menyukainya dengan cara berpakaian terbuka. memang banyak yang akan mendekat, karena lelaki sekarang sudah jadi jahat. Tapi bukankah wanita itu tetap akan harus menyeleksi dari sekian banyak laki-laki. seperti bangkai menyeleksi beribu-ribu lalat.

Namun ternyata ada juga wanita yang berpakaian anggun, bertuturkata santun dan bertingkah sopan. Sederhana dalam pikiran, kata dan perbuatan. Kelihatannya memang hanya sedikit laki-laki yang akan mendekat, namun bukankah laki-laki itu sudah terseleksi dan final?

Saya tidak menyimpulkan bahwa karangan ini salah atau benar karna ini adalah kerelatifan. Hanya berangkat dari apa yang saya lihat didampingi literatur-literatur yang pernah saya baca. Intinya saya tidak sewot, itu pilihan. Menjadi siapa seseorang itu, itu adalah PILIHAN.

Terbang bebas seperti kupu-kupu atau lebah nan cantik dan indah, dengan MEMBEBASKAN PIKIRAN dan mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Bahwa kita semua adalah "MADE IN ALLAH".

Oleh Amin Bagus Panuntun
Rumah, 30 November 2010

Terima kasih telah membaca artikel: Kala Kecantikan Menindas Wanita

Untukmu Rakyat Indonesylala

0 komentar
"DEMOKRASI" satu istilah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Apa kita termasuk masyarakat Indonesia?
 saya akan mengutip arti dari Demokrasi secara sederhana, Demokrasi yaitu sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, Rakyatlah yang berkuasa mutlak. APAKAH KITA RAKYAT? Logikanya Presiden dan DPR, dll adalah wakil dari rakyat, mereka bekerja untuk kita. analoginya, wakil kepala sekolah dengan kepala sekolah kedudukannya lebih tinggi kepala sekolah. Rakyatlah kepala sekolah itu. Jadi kita berhak mengangkat dan memberhentikan wakil rakyat bila sudah menyalahi apa yang kita mau (sesuai prosedur yang berlaku). Mereka memperoleh penghidupan dengan UANG RAKYAT, jadi selayaknya  kita  marah bila uang kita disalahgunakan (dimaling, dikorupsi, suap-menyuap, dll)

Ciri-ciri dari Demokrasi menurut buku "Pendidikan Kewarganegaraan", penerbit Yudhistira:
  1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
  2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
  3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
  4. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat.
Pertanyaannya adalah
1. APA kita (rakyat) paham benar dengan politik? sehingga bisa mengambil keputusan2 politik, kalau kita wakil'kan dan kita tidak paham   politik, kita akan mudah dibohongi.
2. Apakah hak-hak kita di segala bidang sama? pencuri ayam dengan koruptor apakah mendapat perlakuan hukum yang adil?
3. Apakah kita telah memiliki kebebasan ekonomi dan apakah kita mempunyai kemerdekaan kerja? seberapa banyak rakyat yang tidak bisa makan dan memperoleh pendidikan yang layak karena tidak punya biaya, seberapa banyak penganguran-pengangguran yang berserakan dimana-mana. Indosat dijual, Freepot diserahkan asing, pasar bebas sebebas-bebasnya, liberalisasi, dan segala kebusukan hasil dari NEOLIB.
4. Apakah sekarang ada pemilihan umum? Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden, dll. YA, MARI KITA JAWAB "ADA". walaupun  biaya mengadakan pemilu amat sangat besar. walaupun menjadikan ada istilah MONEY POLITIC (politik uang), rakyat diberi uang agar mengikuti keinginan seorang penguasa. setelah dia memperoleh apa yang penguasa inginkan dia berusaha mengembalikan uang yang sebelumnya dia pakai untuk kampanye, ujung-ujungnya KORUPSI. entah, kita harus bangga atau sebaliknya.

INILAH DEMOKRASI, DEMOKRASI mengharuskan semua orang HARUS PINTAR dan CERDAS agar menjadi seorang yang PEKA dan TANGGAP BERTINDAK. Jadi "JANGAN PERNAH SALAHKAN BILA MAHASISWA MELAKUKAN AKSI, ITU DEMI KEPENTINGAN KITA SEMUA, DEMI DEMOKRASI".

Lalu kenapa kita semua masih diam disini? katakan TIDAK pada kemunafikan. Katakan TIDAK pada kebodohan, katakan TIDAK pada penguasa yang dzolim, Katakan TIDAK pada money politic, katakan TIDAK pada kurangnya iman dan moral. Kita harus mencerdaskan diri kita sendiri, kita harus mencerdaskan keluarga kita, kita harus mencerdaskan INDONESIA. Agar demokrasi dapat benar-benar terwujud dengan selaras, seimbang, dan membuat kita semakin dekat dengan TUHAN.

UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BERMARTABAT dan BERKEADILAN.
(ABP) Terima kasih telah membaca artikel: Untukmu Rakyat Indonesylala

Harus Jadi Kaya Raya

0 komentar
Ada suatu hari, dimana kelak tidak ada lagi kebencian, fitnah, kemunafikan, dan penindasan. Hari dimana semua orang bertemu kematian. Kadang aku berpikir. Dalam hidup ini sebenarnya tidak ada "be your self". Menjadi diri sendiri hanya ada saat orang-orang berbicara tentang kita setelah kita menerima kematian. Terlalu banyak istilah kosong. Mungkin pikiranku juga omong kosong. Suatu saat ada hari dimulainya stop thinking. Aku tidak bisa mengelak bahwa aku juga bagian dari hidup ini, bagian dari dunia ini.

Aku berusaha, suatu saat aku harus jadi orang yang kaya raya. Ya, orang yang KAYA RAYA. Kaya hati, ilmu, harta, dan kasih sayang. Agar aku bisa berbicara dengan semua orang dengan begitu mesra, agar aku bisa selalu berzakat dan selalu bersodakoh kepada orang-orang dan berjuang di jalan Allah. Agar aku bisa menghantarkan ayah ibuku ke baitullah. Agar aku tetap bisa menjaga adhikku. Mungkin ini juga yang disebut JIHAD.

Aku teringat dengan hope seseorang (sebut : amin s). Saat dia dapatkan uang dari pengorbanan waktunya. Dia memandang langit biru lalu bicara seolah-olah ada sesuatu diatas awan. Bicara bahwa dia ingin membeli buku dari uang berkorbannya. Aku rasa karna dia yakin kalau sodakoh harus bisa dilakukan dengan cara apapun. Bukan hanya uang yang bisa membijaksanakan seseorang. "hanya ini yang bisa saya lakukan untuk bersodakoh, belajar dari buku lalu menularkan kepada orang lain".

Mulai dari saat ini, aku harus selalu melakukan pendermaan tanpa batas, walaupun dengan batas limitku. Karna hal itu yang membedakan manusia dengan Tuhan.

Termasuk aku akan belajar untuk anak-anak. Untuk senyum mereka kelak. Karna yang bisa aku lakukan untuk mereka adalah agar mereka (anak-anak) bisa mempertahankan mimpi-mimpi dan yakin akan mimpi-mimpinya. Bahwa hidup adalah suatu hal yang amat romantis untuk diperjuangkan, sampai batas sejauh - jauhnya.

Oleh karena itu kita tetap harus kaya secara Financial, kaya secara Intelektual, kaya secara keimanan. Sehingga kita mempunyai pengaruh sosial yang solid.




Terima kasih telah membaca artikel: Harus Jadi Kaya Raya

NONSENS

0 komentar
Aku berpikir, orang-orang yang hanya ingin menerima itu adalah orang-orang yang kosong, tapi saat orang-orang itu mulai banyak memberi. Tuhan akan lebih banyak tersenyum. Bagiku penderitaan muhammad adalah kebahagiaannya.

Aku pikir, Hanya ada satu jenis orang yang bisa menciptakan "keberuntungan", Yaitu "orang hebat". Dan bagiku, cirinya adalah dia mampu menciptakan budaya sosial yang buat tuhan tersenyum. Dia bukan orang cerdas atau pandai, tp dia punya kekuatan mental, kejujuran dan keberanian moral.

Solo, 13 Juli 2010
Terima kasih telah membaca artikel: NONSENS

WARNA PUTIH

0 komentar




Orang lama yg tdk aq kenal ada di sini. Bersama kekosongan, yang kini dianggap suatu hal yang begitu romantis.
Terima kasih telah membaca artikel: WARNA PUTIH